Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model
Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model - Hai, selamat sore berjumpa kembali bersama web info fotografi kreatif pada kali ini saya akan bahas hal tentang fotografi kreatif pengertian fotografi makro simak selengkapnya Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model Untuk mendapatkan pembahasan pembahasan lain nya yang tentu terfavorit, silahkan mampir situs
Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model - Hai, selamat sore berjumpa kembali bersama web info fotografi kreatif di kesempatan ini saya akan bahas hal tentang fotografi keren Untuk mendapatkan ulasan ulasan lain nya yang tentu terbaru, silahkan mampir situs https://fotografii18.blogspot.com
Fotografer itu terbabit kelas yang absurd bin unik. Kehidupannya berat dilepaskan dari yang namanya alat potret dan sering membuat foto. Memang, itulah salah ahad "fungsi" juru foto dalam kehidupan.
Tetapi, cobalah bertanya kepada kebanyakan fotografer, apakah mengatur memiliki banyak foto tentang diri sendiri? Kemungkinan besar jawabannya, "Ada lamun tak banyak".
Memang, memotret diri seorang diri tak mudah. Meskipun banyak alat potret sudah diperlengkapi vari-angle, atau layar LCD yang bisa diputar 180 derajat, lamun kebanyakan juru foto menydari bahwa akhirnya berat menjadi bagus.
Kalaupun harus meminta bantuan orang beda buat memotret dirinya, banyak yang tak cukup yakin bahwa akhirnya akan sama dengan kalau dia yang memotret. Sudah biasa daerah pemotret ini berseloroh menunjukkan ibarat produk foto kalau mengatur yang memotret dan kalau orang beda yang melakukan.
Hasilnya biasanya seperti bumi dan langit. Foto yang mengatur buat biasanya aksi dan enak dilihat, lamun foto yang dilakukan orang beda terkadang bikin geleng-geleng kepala. Sering buram. Tidak fokus.
Jadi, mungkin atas itulah terkadang kaum juru foto enggan bangkit di depan kamera.
Termasuk saya. Yang biar tak bisa disebut fotografer, lamun bolehlah disebut fans fotografi.
Malas agaknya harus bangkit di depan alat potret dan menjadi ala foto apapun.
Rasanya sama sekali tak mengasyikkan melakukan hal itu. Lebih memuaskan dan exciting berada di belakang kamera, mengintip dari viewfinder, mengatur setting, dan akan datang alit tombol shutter.
Ada deg-degan saat membesuk hasilnya. Apakah akan aksi atau tidak. Fokus tepat atau melenceng. Dan, sejenisnya.
Jadi, tak sebanding rasanya. Ada perbedaan yang jauh sekali antara berada di depan dan di belakang kamera. Yang terakhir lebih menyenangkan.
Dan, masalahnya disitu hadir. Dalam kehidupan, seorang juru foto jua seorang manusia, seorang bapak, seorang anak, seorang suami. Mereka harus tetap berinteraksi dengan manusia lainnya.
Terkadang, suami, anak, istri atau ikhwan berharap memiliki kenangan dalam aliran foto yang menunjukkan kebersamaan mereka. Alasan buat itu beragam lamun intinya punya foto bersama.
Terjadilah anti antara melalui "malas" dan "keharusan" itu.
Kalau tak dituruti, suasana menjadi tak enak. Terutama kalau yang meminta adalah sandingan hidup. Efeknya bisa panjang dan beragam, mulai dari manyun selama 1 minggu, sampai tak dimaskin selama 1 bulan.
Repot ujungnya.
Nah, peristiwa seperti ini terulang baru-baru ini. Si kribo cilik, aras dua SMA sekarang, ternyata memperoleh hobi bapaknya bergelut dalam dunia citra memotret. Bisa dikata dia sudah menjadi juru foto juga.
Jeleknya, ternyata adatnya sama jua dan terkena sindrom "malas menjadi model" dan lebih suka memotret model. Berada di belakang alat potret benda hal yang lebih disukainya dibandingkan berpose di depan.
Susahnya, kebiasaannya itu membuat ibunya manyun. Ia ingin mendapatkan foto anaknya yang katanya semakin ganteng dan keren. Hasilnya, muka sih kribo cilik ngeyel dan tetap berkeras tak akan difoto.
Apalagi saat itu sedang dalam ekspedisi ke Semarang dan Rembang buat berjalan-jalan. Tentunya, ibunya sih kribo ingin punya foto dari anaknya selama berada disana.
Ruwet dah.
Barulah, sehabis bapaknya anjlok tangan memberi komando dan keputusan dan akan datang membisikkan resiko kalau tak akan difoto, sih kribo cilik akan berpose di alun-alun Rembang ini. Sambil tetap cemberut dan manyun, lamun setidaknya ibunya senyum palsu membesuk produk foto ananda semata wayangnya ini.
Yah, saya menyadari dua bidang tadi. Sisi ibunya yang bangga dengan anaknya, dan bidang seorang juru foto yang ayal bangkit di depan alat potret dan menjadi model.
Butuh sedikit kreatifitas dan "penjelasan" buat bisa memaksa sesama juru foto berpose. Penjelasannya tentang resiko tak dibuatkan sarapan, tak dicucikan baju seragamnya, dan yang paling menakutkan jatah jajanan bulanannya dipangkas.
Demikianlah penjelasan mengenai Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model, semoga tulisan ini dapat menghibur kamu terima kasih
Artikel ini diposting pada tag pengertian fotografi makro, tips membeli kamera dslr untuk pemula, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Fotografer itu terbabit kelas yang absurd bin unik. Kehidupannya berat dilepaskan dari yang namanya alat potret dan sering membuat foto. Memang, itulah salah ahad "fungsi" juru foto dalam kehidupan.
Tetapi, cobalah bertanya kepada kebanyakan fotografer, apakah mengatur memiliki banyak foto tentang diri sendiri? Kemungkinan besar jawabannya, "Ada lamun tak banyak".
Memang, memotret diri seorang diri tak mudah. Meskipun banyak alat potret sudah diperlengkapi vari-angle, atau layar LCD yang bisa diputar 180 derajat, lamun kebanyakan juru foto menydari bahwa akhirnya berat menjadi bagus.
Kalaupun harus meminta bantuan orang beda buat memotret dirinya, banyak yang tak cukup yakin bahwa akhirnya akan sama dengan kalau dia yang memotret. Sudah biasa daerah pemotret ini berseloroh menunjukkan ibarat produk foto kalau mengatur yang memotret dan kalau orang beda yang melakukan.
Hasilnya biasanya seperti bumi dan langit. Foto yang mengatur buat biasanya aksi dan enak dilihat, lamun foto yang dilakukan orang beda terkadang bikin geleng-geleng kepala. Sering buram. Tidak fokus.
Jadi, mungkin atas itulah terkadang kaum juru foto enggan bangkit di depan kamera.
Termasuk saya. Yang biar tak bisa disebut fotografer, lamun bolehlah disebut fans fotografi.
Malas agaknya harus bangkit di depan alat potret dan menjadi ala foto apapun.
Rasanya sama sekali tak mengasyikkan melakukan hal itu. Lebih memuaskan dan exciting berada di belakang kamera, mengintip dari viewfinder, mengatur setting, dan akan datang alit tombol shutter.
Ada deg-degan saat membesuk hasilnya. Apakah akan aksi atau tidak. Fokus tepat atau melenceng. Dan, sejenisnya.
Jadi, tak sebanding rasanya. Ada perbedaan yang jauh sekali antara berada di depan dan di belakang kamera. Yang terakhir lebih menyenangkan.
Dan, masalahnya disitu hadir. Dalam kehidupan, seorang juru foto jua seorang manusia, seorang bapak, seorang anak, seorang suami. Mereka harus tetap berinteraksi dengan manusia lainnya.
Terkadang, suami, anak, istri atau ikhwan berharap memiliki kenangan dalam aliran foto yang menunjukkan kebersamaan mereka. Alasan buat itu beragam lamun intinya punya foto bersama.
Terjadilah anti antara melalui "malas" dan "keharusan" itu.
Kalau tak dituruti, suasana menjadi tak enak. Terutama kalau yang meminta adalah sandingan hidup. Efeknya bisa panjang dan beragam, mulai dari manyun selama 1 minggu, sampai tak dimaskin selama 1 bulan.
Repot ujungnya.
Nah, peristiwa seperti ini terulang baru-baru ini. Si kribo cilik, aras dua SMA sekarang, ternyata memperoleh hobi bapaknya bergelut dalam dunia citra memotret. Bisa dikata dia sudah menjadi juru foto juga.
Jeleknya, ternyata adatnya sama jua dan terkena sindrom "malas menjadi model" dan lebih suka memotret model. Berada di belakang alat potret benda hal yang lebih disukainya dibandingkan berpose di depan.
Susahnya, kebiasaannya itu membuat ibunya manyun. Ia ingin mendapatkan foto anaknya yang katanya semakin ganteng dan keren. Hasilnya, muka sih kribo cilik ngeyel dan tetap berkeras tak akan difoto.
Apalagi saat itu sedang dalam ekspedisi ke Semarang dan Rembang buat berjalan-jalan. Tentunya, ibunya sih kribo ingin punya foto dari anaknya selama berada disana.
Ruwet dah.
Barulah, sehabis bapaknya anjlok tangan memberi komando dan keputusan dan akan datang membisikkan resiko kalau tak akan difoto, sih kribo cilik akan berpose di alun-alun Rembang ini. Sambil tetap cemberut dan manyun, lamun setidaknya ibunya senyum palsu membesuk produk foto ananda semata wayangnya ini.
Yah, saya menyadari dua bidang tadi. Sisi ibunya yang bangga dengan anaknya, dan bidang seorang juru foto yang ayal bangkit di depan alat potret dan menjadi model.
Butuh sedikit kreatifitas dan "penjelasan" buat bisa memaksa sesama juru foto berpose. Penjelasannya tentang resiko tak dibuatkan sarapan, tak dicucikan baju seragamnya, dan yang paling menakutkan jatah jajanan bulanannya dipangkas.
Demikianlah penjelasan mengenai Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model, semoga tulisan ini dapat menghibur kamu terima kasih
Artikel ini diposting pada tag pengertian fotografi makro, tips membeli kamera dslr untuk pemula, , tanggal 11-09-2019


Komentar
Posting Komentar