Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?
Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ? - Hi, selamat pagi ketemu kembali dengan website seputar fotografi kreatif pada artikel ini kami akan mengupas hal tentang fotografi kreatif fotografer landscape simak selengkapnya Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ? Agar memperoleh berita berita lain nya yang tentu terfavorit, silahkan mampir situs
Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ? - Hi, selamat pagi ketemu kembali dengan website info fotografi kreatif di kesempatan ini kami akan mengupas hal tentang fotografi keren Agar memperoleh ulasan ulasan lain nya yang tentu terbaik, silahkan mampir situs https://fotografii18.blogspot.com
Hayo....pernahkah terbayangkan dalam benak Anda akan kejadian ini? Apa yang harus diajarkan kepada anak Adam yang baru mula-mula kali berguru fotografi/
Maksudnya bukan anak Adam yang tidak suah memotret sama amat karena di zaman sekarang dengan adanya smartphone, hampir pasti mereka suah memotret. Cuma dalam kejadian ini mereka sangat awam mengenai teknik fotografi dan biasanya hanya asal jepret saja.
Nah, kemudian karena mereka tertarik, mereka ingin coba berguru lebih lanjut.
Kepada anak Adam yang bagai ini, materi bidang barang apa yang sesuai? Apakah akan Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)? Ataukah mengenai Segitiga Fotografi, Aperture-Shutter Speed-ISO? Mungkinkah Bokeh? Ataukah komposisi?
Yah, dulu saya juga bingung. Banyak tetangga memandang saya sebagai fotografer beneran, padahal hanya amatiran belaka. Tidak jarang mereka berharap diajarkan bagaimana contohnya memotret dengan ayu dan benar.
Bingung.
Masalahnya merupakan mayoritas dari mereka sama amat buta terhadap barang apa itu fotografi. Bahkan, tidak jarang mereka tidak mengetahui bahwa dalam smartphone sekalipun ada banyak fitur fotografi yang bisa dipergunakan.
Janganlah berbicara terlewat jauh akan komposisi warna, seringnya mereka tidak tahu jabatan GRID atas kamera, mengaktifkannya saja tidak mengerti.
Lalu, barang apa yang harus diajarkan?
Tentunya, harus yang sederhana. Tetapi, juga harus bisa membuktikan sesuatu yang "berbeda". Mudah diingat. Tidak terlewat abstrak karena pasti mereka akan ternganga, bengong. Bukan karena kagum, tetapi karena tidak mengerti.
Jadi, amat sesuatu yang benar sangat sederhana.
Sempat pusing juga memikirkan yang bagai ini.
Untungnya, atas akhirnya ketemu juga jawabannya. Sesuatu yang jelas pasti akan bisa dilakukan minus peralatan tambahan apa-apa. Tidak juga butuh banyak penjelasan dalam kalimat-kalimat panjang. Tidak perlu apalagi mengatur kameranya.
Semua tidak memerlukan keterampilan dan pengetahuan tambahan lain. Yang penting bidang ini mudah diingat dan apalagi bisa dilakukan seorang diri minus apalagi bimbingan anak Adam lain.
Yang saya ajarkan mula-mula kali merupakan akan "SUDUT PENGAMBILAN FOTO SAJA". Tentunya, tidak secara abstrak bahwa ada "Bird Eye Level", "Frog Eye Level", dan sejenisnya. Yang bagai itu terlewat teoretis.
Saya hanya desak mereka memegang kamera, yang biasanya smartphone saja atas kedudukan yang biasa mereka lakukan saat memotret. Sejajar dengan mata dan atas kedudukan berdiri.
Kemudian, saya berharap mereka berjongkok dan merendahkan tangan. Atau, desak mereka mundur, berpindah ke samping, atau apalagi dari belakang.
Itu saja.
Pada setiap posisi, saya berharap mereka melakukan satu jepretan.
Setelah semua kedudukan yang diminta dilakukan, kemudian saya berharap mereka menganalogikan hasilnya. Kesan barang apa yang mereka tangkap dari masing-masing foto. Mana yang berdasarkan mereka lebih ayu dan enak dilihat.
Biasanya, kiranya memilih salah satu, mereka berkomentar, "Ohh, ternyata hasil andaikan dari bawah lebih enak dilihat yah" atau "Beda yah hasilnya andaikan dari samping?"
Dan, itulah tujuannya.
Mayoritas anak Adam terbiasa memotret sambil bangkit dan cocok dengan mata saja. Jarang yang mau bergerak dan mencoba dari sudut-sudut lainnya. Oleh karena itu biasanya hasilnya, baiklah sedemikian itu begitu saja.
Dengan mengajarkan kejadian bagai ini, mereka bisa mengerti bahwa sebentuk foto akan berbeda andaikan diambil dari bucu yang berbeda. Tidak sama. Kesan yang dihasilkan juga akan berbeda meski obyeknya sama.
Oleh karena itu, mereka tidak seharusnya statis dan bergeming atas satu cara saja. Mereka harus mau mencoba dari berbagai bucu lainnya. Karena, kemungkinan hasilnya banyak sekali.
Barulah setelah itu saya akan agak-agih secara singkat bahwa fotografi merupakan akan kreatifitas dengan memanfaatkan bucu pandang. Jadi, seorang pemotret harus mau berusaha mencari bucu pandang terbaik menurutnya, bertimbal dengan selera.
Baik buruknya, enak tidaknya , sebentuk foto dilihat kerap tergantung atas kemauan fotografernya bergerak dan mencari angle yang bagus.
Itulah bidang mula-mula yang selalu saya ajarkan kepada mereka yang baru mula-mula kali berguru fotografi.
Bagaimana dengan Anda?

Seorang blogger, bukan yang profesional, yang sangat suka menulis
Cukup sekian artikel perihal Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kamu salam
Artikel ini diposting pada tag fotografer landscape, cara membuat light painting photography, fotografi landscape pengertian, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Hayo....pernahkah terbayangkan dalam benak Anda akan kejadian ini? Apa yang harus diajarkan kepada anak Adam yang baru mula-mula kali berguru fotografi/
Maksudnya bukan anak Adam yang tidak suah memotret sama amat karena di zaman sekarang dengan adanya smartphone, hampir pasti mereka suah memotret. Cuma dalam kejadian ini mereka sangat awam mengenai teknik fotografi dan biasanya hanya asal jepret saja.
Nah, kemudian karena mereka tertarik, mereka ingin coba berguru lebih lanjut.
Kepada anak Adam yang bagai ini, materi bidang barang apa yang sesuai? Apakah akan Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)? Ataukah mengenai Segitiga Fotografi, Aperture-Shutter Speed-ISO? Mungkinkah Bokeh? Ataukah komposisi?
Yah, dulu saya juga bingung. Banyak tetangga memandang saya sebagai fotografer beneran, padahal hanya amatiran belaka. Tidak jarang mereka berharap diajarkan bagaimana contohnya memotret dengan ayu dan benar.
Bingung.
Masalahnya merupakan mayoritas dari mereka sama amat buta terhadap barang apa itu fotografi. Bahkan, tidak jarang mereka tidak mengetahui bahwa dalam smartphone sekalipun ada banyak fitur fotografi yang bisa dipergunakan.
Janganlah berbicara terlewat jauh akan komposisi warna, seringnya mereka tidak tahu jabatan GRID atas kamera, mengaktifkannya saja tidak mengerti.
Lalu, barang apa yang harus diajarkan?
Tentunya, harus yang sederhana. Tetapi, juga harus bisa membuktikan sesuatu yang "berbeda". Mudah diingat. Tidak terlewat abstrak karena pasti mereka akan ternganga, bengong. Bukan karena kagum, tetapi karena tidak mengerti.
Jadi, amat sesuatu yang benar sangat sederhana.
Sempat pusing juga memikirkan yang bagai ini.
Untungnya, atas akhirnya ketemu juga jawabannya. Sesuatu yang jelas pasti akan bisa dilakukan minus peralatan tambahan apa-apa. Tidak juga butuh banyak penjelasan dalam kalimat-kalimat panjang. Tidak perlu apalagi mengatur kameranya.
Semua tidak memerlukan keterampilan dan pengetahuan tambahan lain. Yang penting bidang ini mudah diingat dan apalagi bisa dilakukan seorang diri minus apalagi bimbingan anak Adam lain.
Yang saya ajarkan mula-mula kali merupakan akan "SUDUT PENGAMBILAN FOTO SAJA". Tentunya, tidak secara abstrak bahwa ada "Bird Eye Level", "Frog Eye Level", dan sejenisnya. Yang bagai itu terlewat teoretis.
Saya hanya desak mereka memegang kamera, yang biasanya smartphone saja atas kedudukan yang biasa mereka lakukan saat memotret. Sejajar dengan mata dan atas kedudukan berdiri.
Kemudian, saya berharap mereka berjongkok dan merendahkan tangan. Atau, desak mereka mundur, berpindah ke samping, atau apalagi dari belakang.
Itu saja.
Pada setiap posisi, saya berharap mereka melakukan satu jepretan.
Setelah semua kedudukan yang diminta dilakukan, kemudian saya berharap mereka menganalogikan hasilnya. Kesan barang apa yang mereka tangkap dari masing-masing foto. Mana yang berdasarkan mereka lebih ayu dan enak dilihat.
Biasanya, kiranya memilih salah satu, mereka berkomentar, "Ohh, ternyata hasil andaikan dari bawah lebih enak dilihat yah" atau "Beda yah hasilnya andaikan dari samping?"
Dan, itulah tujuannya.
Mayoritas anak Adam terbiasa memotret sambil bangkit dan cocok dengan mata saja. Jarang yang mau bergerak dan mencoba dari sudut-sudut lainnya. Oleh karena itu biasanya hasilnya, baiklah sedemikian itu begitu saja.
Dengan mengajarkan kejadian bagai ini, mereka bisa mengerti bahwa sebentuk foto akan berbeda andaikan diambil dari bucu yang berbeda. Tidak sama. Kesan yang dihasilkan juga akan berbeda meski obyeknya sama.
Oleh karena itu, mereka tidak seharusnya statis dan bergeming atas satu cara saja. Mereka harus mau mencoba dari berbagai bucu lainnya. Karena, kemungkinan hasilnya banyak sekali.
Barulah setelah itu saya akan agak-agih secara singkat bahwa fotografi merupakan akan kreatifitas dengan memanfaatkan bucu pandang. Jadi, seorang pemotret harus mau berusaha mencari bucu pandang terbaik menurutnya, bertimbal dengan selera.
Baik buruknya, enak tidaknya , sebentuk foto dilihat kerap tergantung atas kemauan fotografernya bergerak dan mencari angle yang bagus.
Itulah bidang mula-mula yang selalu saya ajarkan kepada mereka yang baru mula-mula kali berguru fotografi.
Bagaimana dengan Anda?

Seorang blogger, bukan yang profesional, yang sangat suka menulis
Cukup sekian artikel perihal Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kamu salam
Artikel ini diposting pada tag fotografer landscape, cara membuat light painting photography, fotografi landscape pengertian, , tanggal 11-09-2019


Komentar
Posting Komentar