Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?
Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ? - Hai, selamat malam bertemu lagi bersama blog seputar fotografi keren sesi kali ini kita akan mengupas hal tentang Seputar fotografer keren lihat selengkapnya Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ? Supaya menerima pembahasan pembahasan lain nya yang tentu menarik, silahkan kunjungi web
Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ? - Hai, selamat malam bertemu lagi bersama blog seputar fotografi keren pada kali ini kita akan mengupas hal tentang Seputar fotografi terbaik Supaya menerima berita berita lain nya yang tentu terbaru, silahkan kunjungi web fotografii18.blogspot.com
| Tri Trisdiyanti |
Dipikir-pikir, dan selepas membaca begitu berlimpah artikel terkait dunia fotografi di dunia maya, ternyata yang namanya teknik fotografi itu berlimpah sekali. Sebut sahaja dalam hal arsitektur foto siap Rule of Thirds, Golden Triangle. Kemudian, iluminasi siap teknik strobist dan low key. Teknik terkait pemanfaatan fitur kamera, bagai bokeh, teknik panning, dan rasanya masih berlimpah lagi lainnya.
Tidak heran, siap sebentuk universitas di Indonesia (dan juga di kaum negara lain) memiliki sebentuk program studi khusus yang mengajarkan fotografi. Institut Seni Indonesia di Yogyakarta menyediakan program studi Fotografi dalam jurusan Seni Media Rekam.
Sebuah hal yang menjadi interogasi tersendiri bagi mereka yang ingin menekuninya dan menjadi fotografer yang baik. Apakah memang segala teknik yang siap krusial dipelajari dan dikuasai ? Bagaimana kalau ternyata tak bisa, akankah berfaedah saya seorang fotografer yang jelek?
Pertanyaan yang alami mengingat begitu berlimpah yang layak dihapalkan dan akhirnya dipraktekkan.
Setelah menekuninya semasa minim kian 4 tahun, abdi berbatas atas kesimpulan bahwa sebenarnya TIDAK PERLU.
Tentunya, bukan berfaedah tak boleh seseorang memegang tampuk segala teknik itu. Ilmu itu semakin berlimpah semakin baik. Hanya saja, prakteknya di lapangan seringkali tak segala pengetahuan tentang teknik itu diperlukan dan dipakai.
![]() |
| Tri Trisdiyanti dan Farida Indriawati |
Contohnya, abdi menyukai fotografi jalanan. Kurang camar abdi memotret model, meski kalau untuk ikhwan dan ahli akur dilakoni juga. Cuma abdi kian suka memotret sesuatu yang natural dan apa adanya yang ditemukan di jalanan.
Tambahlah sedikit-sedikit fotografi landscape alias pemandangan. Namanya manusia kalau melihat pemandangan yang bagus, akur tangan gatel juga untuk menjepret.
Teknik apa yang abdi pergunakan?
Tidak berlimpah sih. Yang paling ada kalanya dipakai adalah bokeh untuk menghilangkan konteks belakang yang mengganggu. Kemudian, penerapan Rule of Thirds atau Aturan Sepertiga. Selebihnya, abdi menemukan bahkan liabilitas untuk menggabungkan antara segala unsur yang siap di jalanan untuk dimasukkan ke dalam frame berperan kian penting dibandingkan teknik.
Padahal, abdi juga bisa "teknik panning", "long exposure", dan kaum teknik lainnya.
Teknik strobist yang menggandul atas pencahayaan, berjalan terang, abdi tak kuasai dan minim gandrung belajar atas menggandul atas perangkat lighting/pencahayaan buatan.
Dan, yang bagai itu bertentangan dengan passion yang menekankan atas unsur alami. Bagaimana bisa menjadi bersahaja atas strobist sendiri biasanya dilakukan di ruang tertutup atau studio dan memerlukan perlengkapan.
Kurang sesuai dengan passion, dan tentunya budget saya.
Jadi, untuk apa abdi mempelajari sesuatu yang tak akan abdi pakai? Saya telah sadar layak untuk mengetahui apa itu strobist dari membaca teorinya saja. Untuk mempraktekkannya dan belajar kian lanjut, rasanya tak berminat.
Dan, apakah itu berfaedah abdi tak bisa memotret dengan baik?
![]() |
| Farida Indriawati |
Ya, tak juga sih. Saya pikir buatan jepretan abdi tak begitu jelek. Teman-teman dan ahli abdi bahkan berpandangan foto-foto buatan karya abdi juga bagus.
Komite seleksi babak II Lomba Foto Wiki Cinta Alam 2019 sepertinya juga berpendapat demikian. Buktinya duet dari 4 buah foto yang abdi saya ikut sertakan ke dalam lomba itu celus berbatas babak II.
Jadi, meski tak memegang tampuk segala jenis teknik fotografi, abdi tetap bisa memanifestasikan foto yang lumayan bagus. Tidak jelek-jelek amat.
Berdasarkan pengalaman inilah, rasanya tak salah-salah amat kalau abdi berpendapat bahwa tak krusial memegang tampuk segala teknik fotografi yang ada. Pelajari sahaja teknik-teknik yang berkaitan dengan passion kita.
Misalkan yang camar jenis "portrait", siap baiknya mempelajari bokeh, low-key, atau kaum teknik iluminasi lainnya. Tidak krusial memaksakan untuk belajar terlalu dalam teknik long exposure atau panning. Toh bakalan jarang dipakai untuk membuat potret seseorang.
Jadi, pilihlah sahaja kaum teknik yang akan mendukung passion kita. Tidak layak memaksakan layak bisa dan memegang tampuk semuanya. Lebih baik, mempelajari kaum saja, tetapi secara mendalam.
Begitulah pandangan sahaja dalam hal ini.
(Model : kawan-kawan lama semasa SMA di SMA Negeri I Bogor. Izin telah didapatkan untuk menayangkan foto-fotonya. Coba tebak berapa usia mereka?)
sekian pembahasan tentang Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?, semoga tulisan ini dapat menghibur anda terima kasih
Artikel ini diposting pada kategori , cara membuat siluet wajah di hp, cara membuat siluet di photoshop cs6, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
| Tri Trisdiyanti |
Dipikir-pikir, dan selepas membaca begitu berlimpah artikel terkait dunia fotografi di dunia maya, ternyata yang namanya teknik fotografi itu berlimpah sekali. Sebut sahaja dalam hal arsitektur foto siap Rule of Thirds, Golden Triangle. Kemudian, iluminasi siap teknik strobist dan low key. Teknik terkait pemanfaatan fitur kamera, bagai bokeh, teknik panning, dan rasanya masih berlimpah lagi lainnya.
Tidak heran, siap sebentuk universitas di Indonesia (dan juga di kaum negara lain) memiliki sebentuk program studi khusus yang mengajarkan fotografi. Institut Seni Indonesia di Yogyakarta menyediakan program studi Fotografi dalam jurusan Seni Media Rekam.
Sebuah hal yang menjadi interogasi tersendiri bagi mereka yang ingin menekuninya dan menjadi fotografer yang baik. Apakah memang segala teknik yang siap krusial dipelajari dan dikuasai ? Bagaimana kalau ternyata tak bisa, akankah berfaedah saya seorang fotografer yang jelek?
Pertanyaan yang alami mengingat begitu berlimpah yang layak dihapalkan dan akhirnya dipraktekkan.
Setelah menekuninya semasa minim kian 4 tahun, abdi berbatas atas kesimpulan bahwa sebenarnya TIDAK PERLU.
Tentunya, bukan berfaedah tak boleh seseorang memegang tampuk segala teknik itu. Ilmu itu semakin berlimpah semakin baik. Hanya saja, prakteknya di lapangan seringkali tak segala pengetahuan tentang teknik itu diperlukan dan dipakai.
![]() |
| Tri Trisdiyanti dan Farida Indriawati |
Contohnya, abdi menyukai fotografi jalanan. Kurang camar abdi memotret model, meski kalau untuk ikhwan dan ahli akur dilakoni juga. Cuma abdi kian suka memotret sesuatu yang natural dan apa adanya yang ditemukan di jalanan.
Tambahlah sedikit-sedikit fotografi landscape alias pemandangan. Namanya manusia kalau melihat pemandangan yang bagus, akur tangan gatel juga untuk menjepret.
Teknik apa yang abdi pergunakan?
Tidak berlimpah sih. Yang paling ada kalanya dipakai adalah bokeh untuk menghilangkan konteks belakang yang mengganggu. Kemudian, penerapan Rule of Thirds atau Aturan Sepertiga. Selebihnya, abdi menemukan bahkan liabilitas untuk menggabungkan antara segala unsur yang siap di jalanan untuk dimasukkan ke dalam frame berperan kian penting dibandingkan teknik.
Padahal, abdi juga bisa "teknik panning", "long exposure", dan kaum teknik lainnya.
Teknik strobist yang menggandul atas pencahayaan, berjalan terang, abdi tak kuasai dan minim gandrung belajar atas menggandul atas perangkat lighting/pencahayaan buatan.
Dan, yang bagai itu bertentangan dengan passion yang menekankan atas unsur alami. Bagaimana bisa menjadi bersahaja atas strobist sendiri biasanya dilakukan di ruang tertutup atau studio dan memerlukan perlengkapan.
Kurang sesuai dengan passion, dan tentunya budget saya.
Jadi, untuk apa abdi mempelajari sesuatu yang tak akan abdi pakai? Saya telah sadar layak untuk mengetahui apa itu strobist dari membaca teorinya saja. Untuk mempraktekkannya dan belajar kian lanjut, rasanya tak berminat.
Dan, apakah itu berfaedah abdi tak bisa memotret dengan baik?
![]() |
| Farida Indriawati |
Ya, tak juga sih. Saya pikir buatan jepretan abdi tak begitu jelek. Teman-teman dan ahli abdi bahkan berpandangan foto-foto buatan karya abdi juga bagus.
Komite seleksi babak II Lomba Foto Wiki Cinta Alam 2019 sepertinya juga berpendapat demikian. Buktinya duet dari 4 buah foto yang abdi saya ikut sertakan ke dalam lomba itu celus berbatas babak II.
Jadi, meski tak memegang tampuk segala jenis teknik fotografi, abdi tetap bisa memanifestasikan foto yang lumayan bagus. Tidak jelek-jelek amat.
Berdasarkan pengalaman inilah, rasanya tak salah-salah amat kalau abdi berpendapat bahwa tak krusial memegang tampuk segala teknik fotografi yang ada. Pelajari sahaja teknik-teknik yang berkaitan dengan passion kita.
Misalkan yang camar jenis "portrait", siap baiknya mempelajari bokeh, low-key, atau kaum teknik iluminasi lainnya. Tidak krusial memaksakan untuk belajar terlalu dalam teknik long exposure atau panning. Toh bakalan jarang dipakai untuk membuat potret seseorang.
Jadi, pilihlah sahaja kaum teknik yang akan mendukung passion kita. Tidak layak memaksakan layak bisa dan memegang tampuk semuanya. Lebih baik, mempelajari kaum saja, tetapi secara mendalam.
Begitulah pandangan sahaja dalam hal ini.
(Model : kawan-kawan lama semasa SMA di SMA Negeri I Bogor. Izin telah didapatkan untuk menayangkan foto-fotonya. Coba tebak berapa usia mereka?)
sekian pembahasan tentang Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?, semoga tulisan ini dapat menghibur anda terima kasih
Artikel ini diposting pada kategori , cara membuat siluet wajah di hp, cara membuat siluet di photoshop cs6, , tanggal 11-09-2019




Komentar
Posting Komentar