Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi
Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi - Hallo, selamat siang bersua lagi bersama website info fotografi kreatif sesi kali ini kami akan membawa pembahasan hal mengenai fotografi kreatif tips fotografi landscape simak selengkapnya Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi Untuk menerima berita berita lain nya yang tentu terfavorit, mari mampir blog
Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi - Hallo, selamat siang bersua lagi bersama website seputar fotografi kreatif di kesempatan ini kami akan membawa pembahasan hal mengenai Seputar fotografi terbaik Untuk menerima pembahasan pembahasan lain nya yang tentu menarik, mari mampir blog https://fotografii18.blogspot.com
Mateng puun atau bulug di pohon adalah sebuah istilah yang umum dipergunakan akibat pedagang buah. Biasanya dipergunakan buat menunjukkan bahwa buah yang dijualnya bukanlah hasil karbitan dan kematangan didapat dengan cara yang alami. Memang, buah yang bulug di pohon biasanya ada kekhasan tersendiri dibandingkan dengan hasil karbitan.
Tentunya, istilah yang satu ini sudah sering didengar. Iya kan?
Nah, masa ini sedia seseorang yang mengatakan bahwa ia lebih suka "mateng di kamera". Apa maksudnya?
Istilah ini juga jarang saya dengar sebelumnya. Baru beberapa yaum yang arkian ketika terlibat percakapan via Instagram dengan seorang ikhwan fotografer dari Depok, istilah itu tercetus keluar. Yang mengatakannya bernama Badet Zarhaeni, seorang fotografer yang pernah menjadi jurnalis di sebuah kantor cerita dan masa ini melaksanakan bisnis fotografi buat prewedding, wedding, dan model.
Bagi yang tidak bergelut di dunia fotografi, tentunya hendak mengerenyitkan dahi membaca istilah asing tersebut. Bagaimana bisa sebuah cetakan "matang di kamera"?
Untuk bisa memahami barang apa yang dikatakannya, definit butuh kecil background.
Di abad masa ini dimana fotografi digital semakin berkembang, penggunaan photo editing software atau perangkat lunak buat mengedit cetakan semakin marak. Banyak orang masa ini justru mengandalkan keahlian mereka dalam mengolah cetakan buat mendapatkan image yang "sempurna" dan terlihat enak dipandang mata.
Sebuah keperluan dari perkembangan teknologi. Mau tidak amuh setiap fotografer di abad masa ini harus juga membekali diri dengan kemampuan tersebut.
Sayangnya, seringkali, berlimpah fotografer yang justru masa ini lebih mementingkan atas mengedit foto. Mereka tidak lagi berfokus dan berusaha semaksimal mungkin buat menghasilkan cetakan yang baik dengan kameranya. Banyak yang berpikir "Ah, gampang nanti di-edit saja membubuhkan Photoshop (atau aplikasi lainnya)"
Padahal, kebiasaan ini justru membuatnya menjadi lebih sebagai "artis digital" dibandingkan fotografer yang seboleh-bolehnya mengandalkan kameranya, bukan komputernya.
Nah, istilah "mateng di kamera" yang dikatakan Badet itu menunjukkan bahwa ia ingin agar cetakan yang berhenti dari kameranya sudah mendekati "sempurna" dalam artian sesuai dengan ide dan kemauannya.
Ia tetap mengatakan tetap hendak melakukan editing alakadarnya, yang berguna kemungkinan adalah pengaturan contrast atau brightness saja. Sesuatu yang memang tidak hendak merubah obyek dan sekedar menaikkan atau menurunkan warna dan kecerahan saja. Mungkin kecil cropping juga hendak dilakukan.
Pastinya ia tidak hendak menggunakan efek ala Camera 360 yang bisa membuat wajah jerawatan jadi kepunyaan wajah amat mulus ala bidadari, sampai lalat nempel saja jatuh.
Prinsip yang memang seboleh-bolehnya dipegang akibat seorang fotografer. Ia harus mengandalkan kameranya dan bukan menggandul atas komputer dan aplikasinya.
Hal itu amat dimungkinkan akibat kamera abad masa ini atas dasarnya sudah seperti komputer mini dan lebih canggih dibandingkan abad lalu. Pembuatan komposisi foto, baik warna, latar belakang, mimik modelnya bisa dilihat dan dipertimbangkan baik-baik sebelum tombol shutter release ditekan.
Artinya, dengan asas ini seorang fotografer harus sudah memikirkan matang-matang sesuai dengan keahliannya agar hasil file cetakan hasil jepretannya, paling tidak sudah 90% jadi dan sisanya barulah dipoles dengan aplikasi edit foto.
Itulah yang dimaksud dari istilah "mateng di kamera", yang sebenarnya tidak berlainan jauh dari istilah "mateng puun" ala tukang buah, yaitu sama-sama merujuk sesuatu yang "alami" dan bukan polesan.
Dua cetakan atas tulisan inipun dibuat dengan memakai asas tadi dan hanya diubah kecerahannya saja. Karena saya sendiri memang lebih suka begitu.
(Untuk melihat hasil karya Badet Zarhaeni beri kunjungi akun instagramnya di @badet_xarhaeni dan anda hendak mendapatkan amanat dari asas di atas)
Cukup sekian artikel mengenai Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi, semoga tulisan ini dapat berfaedah pembaca salam
Artikel ini diposting pada tag tips fotografi landscape, tips membeli kamera bekas online, tips membeli kamera canon untuk pemula, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Mateng puun atau bulug di pohon adalah sebuah istilah yang umum dipergunakan akibat pedagang buah. Biasanya dipergunakan buat menunjukkan bahwa buah yang dijualnya bukanlah hasil karbitan dan kematangan didapat dengan cara yang alami. Memang, buah yang bulug di pohon biasanya ada kekhasan tersendiri dibandingkan dengan hasil karbitan.
Tentunya, istilah yang satu ini sudah sering didengar. Iya kan?
Nah, masa ini sedia seseorang yang mengatakan bahwa ia lebih suka "mateng di kamera". Apa maksudnya?
Istilah ini juga jarang saya dengar sebelumnya. Baru beberapa yaum yang arkian ketika terlibat percakapan via Instagram dengan seorang ikhwan fotografer dari Depok, istilah itu tercetus keluar. Yang mengatakannya bernama Badet Zarhaeni, seorang fotografer yang pernah menjadi jurnalis di sebuah kantor cerita dan masa ini melaksanakan bisnis fotografi buat prewedding, wedding, dan model.
Bagi yang tidak bergelut di dunia fotografi, tentunya hendak mengerenyitkan dahi membaca istilah asing tersebut. Bagaimana bisa sebuah cetakan "matang di kamera"?
Untuk bisa memahami barang apa yang dikatakannya, definit butuh kecil background.
Di abad masa ini dimana fotografi digital semakin berkembang, penggunaan photo editing software atau perangkat lunak buat mengedit cetakan semakin marak. Banyak orang masa ini justru mengandalkan keahlian mereka dalam mengolah cetakan buat mendapatkan image yang "sempurna" dan terlihat enak dipandang mata.
Sebuah keperluan dari perkembangan teknologi. Mau tidak amuh setiap fotografer di abad masa ini harus juga membekali diri dengan kemampuan tersebut.
Sayangnya, seringkali, berlimpah fotografer yang justru masa ini lebih mementingkan atas mengedit foto. Mereka tidak lagi berfokus dan berusaha semaksimal mungkin buat menghasilkan cetakan yang baik dengan kameranya. Banyak yang berpikir "Ah, gampang nanti di-edit saja membubuhkan Photoshop (atau aplikasi lainnya)"
Padahal, kebiasaan ini justru membuatnya menjadi lebih sebagai "artis digital" dibandingkan fotografer yang seboleh-bolehnya mengandalkan kameranya, bukan komputernya.
Nah, istilah "mateng di kamera" yang dikatakan Badet itu menunjukkan bahwa ia ingin agar cetakan yang berhenti dari kameranya sudah mendekati "sempurna" dalam artian sesuai dengan ide dan kemauannya.
Ia tetap mengatakan tetap hendak melakukan editing alakadarnya, yang berguna kemungkinan adalah pengaturan contrast atau brightness saja. Sesuatu yang memang tidak hendak merubah obyek dan sekedar menaikkan atau menurunkan warna dan kecerahan saja. Mungkin kecil cropping juga hendak dilakukan.
Pastinya ia tidak hendak menggunakan efek ala Camera 360 yang bisa membuat wajah jerawatan jadi kepunyaan wajah amat mulus ala bidadari, sampai lalat nempel saja jatuh.
Prinsip yang memang seboleh-bolehnya dipegang akibat seorang fotografer. Ia harus mengandalkan kameranya dan bukan menggandul atas komputer dan aplikasinya.
Hal itu amat dimungkinkan akibat kamera abad masa ini atas dasarnya sudah seperti komputer mini dan lebih canggih dibandingkan abad lalu. Pembuatan komposisi foto, baik warna, latar belakang, mimik modelnya bisa dilihat dan dipertimbangkan baik-baik sebelum tombol shutter release ditekan.
Artinya, dengan asas ini seorang fotografer harus sudah memikirkan matang-matang sesuai dengan keahliannya agar hasil file cetakan hasil jepretannya, paling tidak sudah 90% jadi dan sisanya barulah dipoles dengan aplikasi edit foto.
Itulah yang dimaksud dari istilah "mateng di kamera", yang sebenarnya tidak berlainan jauh dari istilah "mateng puun" ala tukang buah, yaitu sama-sama merujuk sesuatu yang "alami" dan bukan polesan.
Dua cetakan atas tulisan inipun dibuat dengan memakai asas tadi dan hanya diubah kecerahannya saja. Karena saya sendiri memang lebih suka begitu.
(Untuk melihat hasil karya Badet Zarhaeni beri kunjungi akun instagramnya di @badet_xarhaeni dan anda hendak mendapatkan amanat dari asas di atas)
Cukup sekian artikel mengenai Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi, semoga tulisan ini dapat berfaedah pembaca salam
Artikel ini diposting pada tag tips fotografi landscape, tips membeli kamera bekas online, tips membeli kamera canon untuk pemula, , tanggal 11-09-2019




Komentar
Posting Komentar