Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas
Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas - Hai, selamat sore ketemu kembali dengan situs info fotografi terbaik pada artikel ini saya akan merivew hal tentang fotografi kreatif tips membeli kamera canon untuk pemula lihat selengkapnya Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas Untuk menerima berita berita lain nya yg tentu menarik, silahkan kunjungi web
Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas - Hai, selamat sore ketemu kembali dengan situs info fotografi terbaik pada kali ini saya akan merivew hal tentang Seputar fotografi terbaik Untuk menerima ulasan ulasan lain nya yg tentu terbaik, silahkan kunjungi web fotografii18.blogspot.com
Beberapa waktu yang lalu, kala aku sedang melaksanakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana aku tinggal, ada sebentuk interupsi menarik dari alpa seorang peserta, adalah kala berbantah bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah absolut analisis yang ahad ini sangat menarik bagi bani ibu, lagi pula mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.
Celetukan ini memang melibat penulisan dan bagaimana membuat catatan tentang incaran yang bisa menarik pembaca. Dan, alpa ahad yang harus dilakukan adalah tercantol foto incaran yang hendak ditampilkan.
Sebuah catatan kuliner minus ada foto makanannya, sama sahaja masak sayur minus garam. Tidak hendak lengkap dan tidak hendak menarik.
Nah, ucapan yang membuat kening aku agak berkerut dalam kejadian ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret incaran itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya aku lupa, tetapi intinya seperti itu.
Yah, kening aku berkerut juga, cuma aku putuskan untuk tidak berbantah bertambah lanjut lagi akibat andaikata dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.
Setelah itu, aku melakukan kunjungan ke berbagai blog yang berbantah melanggar makanan. Heran juga, kelihatan memang rupanya ada kecenderungan getah perca blogger kuliner dan keterangan untuk bertambah banyak mengambil bucu pemotretan dari atas.
Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di tempat dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang bengot sedikit.
Entah sejak kapan kelaziman itu terjadi, tetapi selepas belek sejenak, baiklah mungkin inilah yang menjadi dasar dari interupsi sang ibu tadi.
Sebagai anak buah yang mengasyiki fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, biar bukan dalam bidang foto makanan, aku merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.
Fotografi atas intinya, selain untuk merekam sebentuk momen, juga untuk menampilkan muka keindahan dari "sesuatu" alias "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.
Mau dari tempat kek, dari bawah, dari samping, alias darimanapun.
Semuanya tercantel atas selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera saban anak buah berbeda.
Begitu juga dalam kejadian foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret incaran harus alias sebaiknya dari tempat saja. Memang, biasanya posisi kamera di tempat hendak memberikan foto yang berisi bermacam-macam warni incaran dan pola yang terbentuk akibat biasanya incaran memiliki pola, tetapi tidak berkelaluan harus begitu.
Keindahan dalam sebentuk incaran bisa diperlihatkan dari muka manapun, selama yang memotret kenal caranya.
Sebagai contoh, semua foto incaran dalam catatan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di tempat dan berkunjung ke kaki (gunung) saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap sahaja bagus.
Betulkan?
Yang pertama dalam mengambil foto incaran agar menarik perhatian bukanlah sekedar bucu pengambilan gambar (dari tempat saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan bucu yang pokta bagi obyeknya.
Ditambah lagi dengan skill dan kapabilitas memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.
Memastikan posisi kamera harus berada di tempat saat memotret incaran mudah-mudahan mendapatkan produk pokta juga tidak selamanya benar.
Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, absolut hendak sangat menyulitkan akibat bidang kamera tidak bisa membendung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi andaikata cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.
Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah lentur dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan produk yang terbaik. Hal itu berarti bisa sahaja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.
Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam bernapas manusia.
sekian pembahasan mengenai Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas, semoga artikel ini dapat menghibur kalian semua terima kasih
Artikel ini diposting pada label tips membeli kamera canon untuk pemula, , tips membeli kamera dslr untuk pemula, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Beberapa waktu yang lalu, kala aku sedang melaksanakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana aku tinggal, ada sebentuk interupsi menarik dari alpa seorang peserta, adalah kala berbantah bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah absolut analisis yang ahad ini sangat menarik bagi bani ibu, lagi pula mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.
Celetukan ini memang melibat penulisan dan bagaimana membuat catatan tentang incaran yang bisa menarik pembaca. Dan, alpa ahad yang harus dilakukan adalah tercantol foto incaran yang hendak ditampilkan.
Sebuah catatan kuliner minus ada foto makanannya, sama sahaja masak sayur minus garam. Tidak hendak lengkap dan tidak hendak menarik.
Nah, ucapan yang membuat kening aku agak berkerut dalam kejadian ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret incaran itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya aku lupa, tetapi intinya seperti itu.
Yah, kening aku berkerut juga, cuma aku putuskan untuk tidak berbantah bertambah lanjut lagi akibat andaikata dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.
Setelah itu, aku melakukan kunjungan ke berbagai blog yang berbantah melanggar makanan. Heran juga, kelihatan memang rupanya ada kecenderungan getah perca blogger kuliner dan keterangan untuk bertambah banyak mengambil bucu pemotretan dari atas.
Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di tempat dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang bengot sedikit.
Entah sejak kapan kelaziman itu terjadi, tetapi selepas belek sejenak, baiklah mungkin inilah yang menjadi dasar dari interupsi sang ibu tadi.
Sebagai anak buah yang mengasyiki fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, biar bukan dalam bidang foto makanan, aku merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.
Fotografi atas intinya, selain untuk merekam sebentuk momen, juga untuk menampilkan muka keindahan dari "sesuatu" alias "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.
Mau dari tempat kek, dari bawah, dari samping, alias darimanapun.
Semuanya tercantel atas selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera saban anak buah berbeda.
Begitu juga dalam kejadian foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret incaran harus alias sebaiknya dari tempat saja. Memang, biasanya posisi kamera di tempat hendak memberikan foto yang berisi bermacam-macam warni incaran dan pola yang terbentuk akibat biasanya incaran memiliki pola, tetapi tidak berkelaluan harus begitu.
Keindahan dalam sebentuk incaran bisa diperlihatkan dari muka manapun, selama yang memotret kenal caranya.
Sebagai contoh, semua foto incaran dalam catatan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di tempat dan berkunjung ke kaki (gunung) saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap sahaja bagus.
Betulkan?
Yang pertama dalam mengambil foto incaran agar menarik perhatian bukanlah sekedar bucu pengambilan gambar (dari tempat saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan bucu yang pokta bagi obyeknya.
Ditambah lagi dengan skill dan kapabilitas memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.
Memastikan posisi kamera harus berada di tempat saat memotret incaran mudah-mudahan mendapatkan produk pokta juga tidak selamanya benar.
Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, absolut hendak sangat menyulitkan akibat bidang kamera tidak bisa membendung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi andaikata cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.
Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah lentur dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan produk yang terbaik. Hal itu berarti bisa sahaja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.
Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam bernapas manusia.
sekian pembahasan mengenai Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas, semoga artikel ini dapat menghibur kalian semua terima kasih
Artikel ini diposting pada label tips membeli kamera canon untuk pemula, , tips membeli kamera dslr untuk pemula, , tanggal 11-09-2019




Komentar
Posting Komentar