Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini
Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini - hey, selamat sore ketemu kembali dengan web info fotografi kreatif dikesempatan ini admin akan menjelaskan hal mengenai Seputar fotografer keren contoh fotografi landscape simak selengkapnya Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini Supaya mendapatkan informasi informasi lain nya yang tentu menarik, mari mampir web
Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini - hey, selamat sore ketemu kembali dengan web info fotografi kreatif sesi kali ini admin akan menjelaskan hal mengenai fotografi keren Supaya mendapatkan ulasan ulasan lain nya yang tentu terbaik, mari mampir web fotografii18.blogspot.com
| Selimut Pisang Coklat ala Kafe Seniman Stories, Bogor 2019 |
Fotografi semakin banyak diminati oleh berbagai arena berbarengan berkembangnya dunia fotografi digital. Bukan hanya membayangkan yang berniat menjadikan sebagai hobi, melainkan jua membayangkan yang embuh menekuni fotografi sebagai bisnis.
Tidak kurang kemudian yang rela menginvestasikan dana banyak untuk membeli kamera dan berbagai aksesorinya, seperti lensa, bahan lighting (pencahayaan). Banyak yang bersedia merogoh dompet sungguh-sungguh untuk mengikuti bimbingan fotografi agar menjadi mahir dalam menciptakan foto yang mengundang "WOW" dari yang melihat.
Seorang yang pernah abdi kenal saat berburu foto di jalanan pernah bercerita bahwa dia telah menjual Vespa kesayangannya. Kemudian, dia membelikannya sebentuk kamera Mirrorless. Ia berambisi bisa menekuni dunia food photography, atau fotografi makanan.
Entah dengan jalan apa kelanjutan dari ceritanya, melainkan kejadian itu menunjukkan bahwa mulai banyak anak buah yang memandang fotografi bertambah dari sekedar hobi. Semakin banyak yang berpikir bahwa aktivitas bentuk memotret ini bisa menjadi ladang dana dan pangkal alat penglihat pencaharian.
Sayangnya, alih-alih banyak jua yang akhirnya kecewa. Mereka menemukan bahwa menjadikan fotografi sebagai sebentuk upaya tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak yang berhenti dan gagal karena sehabis bergelut beberapa lama, dan merasa produk fotonya sudah sangat bagus, melainkan dana belum jua dihasilkan.
Mereka bingung dimana kesalahannya. Foto sudah bagus. Peralatan lengkap.
Lalu dimana salahnya?
Yah, disana benar sedia sebentuk kesalahan. Sangat FATAL malah.
![]() |
| Risoles Kafe Seniman Stories, Bogor 2019 |
Kurang ajar memang, abdi yang bukan seorang pebisnis di dunia fotografi berani mengatakan sedia kesalahan fatal dalam kejadian ini. Tetapi, percayalah benar kesalahannya sangat besar.
Kesalahan itu terletak pada pemikiran bahwa bahan atau foto yang aksi dan melabu sudah cukup untuk mengundang anak buah datang dan kemudian menghunus uang. Jelas alpa amat jika Anda jua ada adicita seperti itu.
Ketika embuh menjadikan "sesuatu", bukan hanya fotografi, sebagai sebentuk unit bisnis, alkisah butuh bertambah banyak dari foto yang aksi saja. Lebih banyak lagi untuk merubah skill menjadi uang.
Yang Dibutuhkan Untuk Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis
Tidak berparak dengan kejadian lainnya, fotografi sebagai bisnis akan butuh banyak kejadian lain untuk menunjangnya. Dan, seorang juru foto layak memilikinya
Beberapa diantaranya bisa disebutkan di bawah ini :
1. Promosi
Di zaman sekarang, sebentuk bisnis tanpa melaksanakan advertensi sama sahaja seperti mendiami "mati".
Promosi diperlukan untuk mengundang ketertarikan anak buah lain untuk datang, melihat, dan kemudian "membeli". Yang satu ini diperlukan untuk membentuk pekan yang mau memakai jasa atau produk yang ditawarkan.
Apalagi, dengan semakin terjangkaunya kamera digital, saban anak buah bisa menciptakan foto. Akhirnya orang-orang yang berpikiran sama, embuh menciptakan dana dari fotografi jua semakin banyak.
Tanpa melaksanakan promosi, alkisah tak akan sedia yang mau melihat dan kemudian membeli apa yang dijual oleh seorang fotografer. Kalau tak sedia yang "membeli", alkisah tak akan sedia dana yang masuk.
Tujuan tak tercapai.
Promosikan badan dan produk buatan sesering mungkin agar bisa mengundang perhatian dan menarik minat orang. Semakin banyak semakin baik.
2. Tidak Punya Produk
Untuk menciptakan uang, layak sedia yang "dijual". Yang dijual itu disebut produk. Tanpa produk, alkisah tak sedia yang dijual.
Banyak juru foto yang memamerkan produk foto membayangkan di Instagram atau Facebook, melainkan membayangkan hanya membaca "like" saja, bukan uang. Bila hobi dan kesenangan adalah tujuannya, sudah cukup, melainkan andaikan dana ? Cukup sih apresiasi itu?
Tentu tidak.
Oleh karena itu, seorang juru foto yang akan menjadikan hobinya sebagai bisnis, membayangkan layak punya produk. Bentuknya bisa beragam, jasa atau foto. Terserah, melainkan untuk berbisnis, produknya layak ada.
Tanpa itu, tak akan sedia produk berbentuk uang. Artinya, tak akan sedia bisnis.
3. Tempat Menjual / Pasar
Mengapa anak buah punya toko atau lapak? Karena disana membayangkan bisa menjual produk membayangkan dan menukarnya dengan uang.
Itulah mengapa banyak biaperi kaki lima bising dan marah besar ketika lapaknya digusur satpol PP. Mereka kehilangan tempat untuk memasarkan barang dagangannya, yang berguna membayangkan tak bisa menciptakan uang.
Lalu, seorang juru foto yang tak punya lapak? Bagaimana menjual produknya atau jasanya.
Memandang fotografi dari bucu bisnis, alkisah jua layak berpikir dimana jasa atau produk lainnya bisa dijual.
Tanpa itu, alkisah tak akan sedia yang bisa diperjual belikan.
4. Jaringan/Network
Hasil foto aksi dan memukau, melainkan tak punya jejaring perkawanan atau kenalan, hasilnya bisa sama sahaja bohong. Zero. Nol.
Memiliki jejaring atau network merupakan kejadian yang penting dalam dunia bisnis dan andaikan embuh menjadikan fotografi sebagai bisnis, seorang juru foto layak mau membangun networknya.
Dengan begitu membayangkan ada channel, baik untuk menjual produk atau jasanya.
Tidak kurang bisnis dan transaksi yang berhasil dengan menggunakan sistem jaringan, contohnya MLM (Multi Level Marketing).
Oleh karena itu, selain skill memotret, seorang juru foto layak jua ada kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, dan berkompromi dengan orang-orang di sekelilingnya atau di dunianya.
5. Manajemen
Percayalah, tak sedia bisnis yang berhasil tanpa adanya sebentuk manajemen yang handal di belakangnya.
Manajemen dalam kejadian ini mencakup banyak hal, seperti manajemen tempo untuk meneguhkan produknya dikirim sesuai dengan permintaan, manajemen finansial untuk meneguhkan dana yang bersarang bertambah besar daripada dana yang keluar.
Belum lagi, sebentuk upaya bisnis berbasis fotografi biasanya tak bisa dilakukan seorang diri. Umumnya, butuh sebentuk tim yang terdiri dari bertambah dari satu orang. Untuk itu diperlukan manajemen personil yang aksi pula.
Bayangkan sahaja andaikan layak memotret outdoor dan membawa banyak peralatan, alot untuk dilakukan seorang diri. Butuh pengapit yang bisa membantu, dan untuk itu krusial pengetahuan dengan jalan apa membenahi pekerja.
6. Pengelolaan Keuangan
Berapa harga jual jasa foto kepada pelanggan? Jawabannya tak akan diketahui andaikan data tentang uang yang dikeluarkan, biaya operasional, dan biaya lain-lain tak diketahui.
Ujungnya, andaikan ini terjadi, harga penawaran hanya dikira-kira dan mungkin amat salah, bertambah halus dari biaya produksi.
Rugi adalah hasilnya.
Pengelolaan finansial bukan hanya meneguhkan bahwa arus cabut bersarang dana tercatat, melainkan jua untuk meneguhkan bahwa harga jual bertambah tinggi dari biaya produksi.
Tanpa itu, sama sahaja bohong.
![]() |
| Salmon Benedict, Pardon My French , Jakarta 2019 |
Kesimpulan :
Terdengar berabe yah? Tetapi, benar begitulah adanya.
Jika saya akan melahirkan ide fotografi sebagai sebentuk bisnis, mau tak mau saya sudah melangkah bertambah asing lagi ke dalam dunia bisnis. Maka, perlakuan saya terhadap aktivitas bentuk memotret pun layak berubah, tak lagi sekedar sebagai fotografer.
Untuk menjadikan fotografi sebagai bisnis, alkisah saya tak bisa "hanya" menjadi fotografer, melainkan layak menjadi "ENTREPRENEUR" atau "PEBISNIS" . Pola pikirnya pun layak mencakup semua kejadian yang berlaku di dunia bisnis.
Baca Juga :
- Jika Anda Suka Memotret Makanan, Bisa Menghasilkan Uang Lo!
- Makna Fotografi Bisa Berbeda : Tergantung Cara Pandang
Tentunya, tak akan cukup menyelesaikan masalah finansial atau kepelikan pemasaran hanya berbekal pengetahuan dengan jalan apa membuat BOKEH atau LONG EXPOSURE. Tidak cocok dan tak akan menyelesaikan masalah.
Jadi, andaikan mau sukses sebagai pebisnis berbasis fotografi, berpikirlah sebagai pebisnis dulu, baru kemudian sebagai fotografer.
Jangan dibalik.
sekian penjelasan mengenai Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini, semoga ulasan ini dapat berfaedah kamu salam
tulisan ini diposting pada tag contoh fotografi landscape, teknik fotografi landscape pantai, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
| Selimut Pisang Coklat ala Kafe Seniman Stories, Bogor 2019 |
Fotografi semakin banyak diminati oleh berbagai arena berbarengan berkembangnya dunia fotografi digital. Bukan hanya membayangkan yang berniat menjadikan sebagai hobi, melainkan jua membayangkan yang embuh menekuni fotografi sebagai bisnis.
Tidak kurang kemudian yang rela menginvestasikan dana banyak untuk membeli kamera dan berbagai aksesorinya, seperti lensa, bahan lighting (pencahayaan). Banyak yang bersedia merogoh dompet sungguh-sungguh untuk mengikuti bimbingan fotografi agar menjadi mahir dalam menciptakan foto yang mengundang "WOW" dari yang melihat.
Seorang yang pernah abdi kenal saat berburu foto di jalanan pernah bercerita bahwa dia telah menjual Vespa kesayangannya. Kemudian, dia membelikannya sebentuk kamera Mirrorless. Ia berambisi bisa menekuni dunia food photography, atau fotografi makanan.
Entah dengan jalan apa kelanjutan dari ceritanya, melainkan kejadian itu menunjukkan bahwa mulai banyak anak buah yang memandang fotografi bertambah dari sekedar hobi. Semakin banyak yang berpikir bahwa aktivitas bentuk memotret ini bisa menjadi ladang dana dan pangkal alat penglihat pencaharian.
Sayangnya, alih-alih banyak jua yang akhirnya kecewa. Mereka menemukan bahwa menjadikan fotografi sebagai sebentuk upaya tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak yang berhenti dan gagal karena sehabis bergelut beberapa lama, dan merasa produk fotonya sudah sangat bagus, melainkan dana belum jua dihasilkan.
Mereka bingung dimana kesalahannya. Foto sudah bagus. Peralatan lengkap.
Lalu dimana salahnya?
Yah, disana benar sedia sebentuk kesalahan. Sangat FATAL malah.
![]() |
| Risoles Kafe Seniman Stories, Bogor 2019 |
Kurang ajar memang, abdi yang bukan seorang pebisnis di dunia fotografi berani mengatakan sedia kesalahan fatal dalam kejadian ini. Tetapi, percayalah benar kesalahannya sangat besar.
Kesalahan itu terletak pada pemikiran bahwa bahan atau foto yang aksi dan melabu sudah cukup untuk mengundang anak buah datang dan kemudian menghunus uang. Jelas alpa amat jika Anda jua ada adicita seperti itu.
Ketika embuh menjadikan "sesuatu", bukan hanya fotografi, sebagai sebentuk unit bisnis, alkisah butuh bertambah banyak dari foto yang aksi saja. Lebih banyak lagi untuk merubah skill menjadi uang.
Yang Dibutuhkan Untuk Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis
Tidak berparak dengan kejadian lainnya, fotografi sebagai bisnis akan butuh banyak kejadian lain untuk menunjangnya. Dan, seorang juru foto layak memilikinya
Beberapa diantaranya bisa disebutkan di bawah ini :
1. Promosi
Di zaman sekarang, sebentuk bisnis tanpa melaksanakan advertensi sama sahaja seperti mendiami "mati".
Promosi diperlukan untuk mengundang ketertarikan anak buah lain untuk datang, melihat, dan kemudian "membeli". Yang satu ini diperlukan untuk membentuk pekan yang mau memakai jasa atau produk yang ditawarkan.
Apalagi, dengan semakin terjangkaunya kamera digital, saban anak buah bisa menciptakan foto. Akhirnya orang-orang yang berpikiran sama, embuh menciptakan dana dari fotografi jua semakin banyak.
Tanpa melaksanakan promosi, alkisah tak akan sedia yang mau melihat dan kemudian membeli apa yang dijual oleh seorang fotografer. Kalau tak sedia yang "membeli", alkisah tak akan sedia dana yang masuk.
Tujuan tak tercapai.
Promosikan badan dan produk buatan sesering mungkin agar bisa mengundang perhatian dan menarik minat orang. Semakin banyak semakin baik.
2. Tidak Punya Produk
Untuk menciptakan uang, layak sedia yang "dijual". Yang dijual itu disebut produk. Tanpa produk, alkisah tak sedia yang dijual.
Banyak juru foto yang memamerkan produk foto membayangkan di Instagram atau Facebook, melainkan membayangkan hanya membaca "like" saja, bukan uang. Bila hobi dan kesenangan adalah tujuannya, sudah cukup, melainkan andaikan dana ? Cukup sih apresiasi itu?
Tentu tidak.
Oleh karena itu, seorang juru foto yang akan menjadikan hobinya sebagai bisnis, membayangkan layak punya produk. Bentuknya bisa beragam, jasa atau foto. Terserah, melainkan untuk berbisnis, produknya layak ada.
Tanpa itu, tak akan sedia produk berbentuk uang. Artinya, tak akan sedia bisnis.
3. Tempat Menjual / Pasar
Mengapa anak buah punya toko atau lapak? Karena disana membayangkan bisa menjual produk membayangkan dan menukarnya dengan uang.
Itulah mengapa banyak biaperi kaki lima bising dan marah besar ketika lapaknya digusur satpol PP. Mereka kehilangan tempat untuk memasarkan barang dagangannya, yang berguna membayangkan tak bisa menciptakan uang.
Lalu, seorang juru foto yang tak punya lapak? Bagaimana menjual produknya atau jasanya.
Memandang fotografi dari bucu bisnis, alkisah jua layak berpikir dimana jasa atau produk lainnya bisa dijual.
Tanpa itu, alkisah tak akan sedia yang bisa diperjual belikan.
4. Jaringan/Network
Hasil foto aksi dan memukau, melainkan tak punya jejaring perkawanan atau kenalan, hasilnya bisa sama sahaja bohong. Zero. Nol.
Memiliki jejaring atau network merupakan kejadian yang penting dalam dunia bisnis dan andaikan embuh menjadikan fotografi sebagai bisnis, seorang juru foto layak mau membangun networknya.
Dengan begitu membayangkan ada channel, baik untuk menjual produk atau jasanya.
Tidak kurang bisnis dan transaksi yang berhasil dengan menggunakan sistem jaringan, contohnya MLM (Multi Level Marketing).
Oleh karena itu, selain skill memotret, seorang juru foto layak jua ada kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, dan berkompromi dengan orang-orang di sekelilingnya atau di dunianya.
5. Manajemen
Percayalah, tak sedia bisnis yang berhasil tanpa adanya sebentuk manajemen yang handal di belakangnya.
Manajemen dalam kejadian ini mencakup banyak hal, seperti manajemen tempo untuk meneguhkan produknya dikirim sesuai dengan permintaan, manajemen finansial untuk meneguhkan dana yang bersarang bertambah besar daripada dana yang keluar.
Belum lagi, sebentuk upaya bisnis berbasis fotografi biasanya tak bisa dilakukan seorang diri. Umumnya, butuh sebentuk tim yang terdiri dari bertambah dari satu orang. Untuk itu diperlukan manajemen personil yang aksi pula.
Bayangkan sahaja andaikan layak memotret outdoor dan membawa banyak peralatan, alot untuk dilakukan seorang diri. Butuh pengapit yang bisa membantu, dan untuk itu krusial pengetahuan dengan jalan apa membenahi pekerja.
6. Pengelolaan Keuangan
Berapa harga jual jasa foto kepada pelanggan? Jawabannya tak akan diketahui andaikan data tentang uang yang dikeluarkan, biaya operasional, dan biaya lain-lain tak diketahui.
Ujungnya, andaikan ini terjadi, harga penawaran hanya dikira-kira dan mungkin amat salah, bertambah halus dari biaya produksi.
Rugi adalah hasilnya.
Pengelolaan finansial bukan hanya meneguhkan bahwa arus cabut bersarang dana tercatat, melainkan jua untuk meneguhkan bahwa harga jual bertambah tinggi dari biaya produksi.
Tanpa itu, sama sahaja bohong.
![]() |
| Salmon Benedict, Pardon My French , Jakarta 2019 |
Kesimpulan :
Terdengar berabe yah? Tetapi, benar begitulah adanya.
Jika saya akan melahirkan ide fotografi sebagai sebentuk bisnis, mau tak mau saya sudah melangkah bertambah asing lagi ke dalam dunia bisnis. Maka, perlakuan saya terhadap aktivitas bentuk memotret pun layak berubah, tak lagi sekedar sebagai fotografer.
Untuk menjadikan fotografi sebagai bisnis, alkisah saya tak bisa "hanya" menjadi fotografer, melainkan layak menjadi "ENTREPRENEUR" atau "PEBISNIS" . Pola pikirnya pun layak mencakup semua kejadian yang berlaku di dunia bisnis.
Baca Juga :
- Jika Anda Suka Memotret Makanan, Bisa Menghasilkan Uang Lo!
- Makna Fotografi Bisa Berbeda : Tergantung Cara Pandang
Tentunya, tak akan cukup menyelesaikan masalah finansial atau kepelikan pemasaran hanya berbekal pengetahuan dengan jalan apa membuat BOKEH atau LONG EXPOSURE. Tidak cocok dan tak akan menyelesaikan masalah.
Jadi, andaikan mau sukses sebagai pebisnis berbasis fotografi, berpikirlah sebagai pebisnis dulu, baru kemudian sebagai fotografer.
Jangan dibalik.
sekian penjelasan mengenai Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini, semoga ulasan ini dapat berfaedah kamu salam
tulisan ini diposting pada tag contoh fotografi landscape, teknik fotografi landscape pantai, , tanggal 11-09-2019





Komentar
Posting Komentar