Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik

Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik - Hallo, selamat sore bertemu lagi dengan web seputar fotografi keren pada kali ini kami akan mengulas hal mengenai fotografi kreatif tips membeli kamera bekas simak selengkapnya Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik Supaya mendapatkan pembahasan pembahasan lain nya yg tentu terfavorit, mari kunjungi web

Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik - Hallo, selamat sore bertemu lagi dengan web seputar fotografi keren di kesempatan ini kami akan mengulas hal mengenai fotografi kreatif Supaya mendapatkan pembahasan pembahasan lain nya yg tentu terbaik, mari kunjungi web https://fotografii18.blogspot.com

 

 

Kill The Babies, begitulah istilahnya.Saya membacanya di sebuah blog milik juru potret jalanan terkenal, Eric Kim Blog.

Ia seorang warganegara Amerika Serikat berdarah Korea. Masih muda, berusia di kaki (gunung) 30 tahun. Namanya sudah melanglang buana dengan ia sudah mengadakan berbagai workshop di seantero dunia.

Kalau mau memandang hasil-hasil karyanya, teori dengan blognya bisa di sini . (Dalam bahasa Inggris, tetapi seharusnya bukan sebuah bab untuk Anda). Ada e-book panduan "street photography" yang bisa didownload gratis sebagai bahan pembelajaran.

Dari berbagai tulisannya lah istilah itu aku kenal.



Makna Kill the Babies

Terdengar bakhil dengan tidak berperikemanusiaan. Mengapa lagi layak melenyapkan "bayi"?

Sebelum berlaku salah tangkap bahwa aku ini sedang berbicara tentang kekejaman, mungkin siap baiknya aku berikan sedikit background.

Dalam dunia fotografi digital dewasa ini, para juru potret ataupun fans fotografi acap kali memfoto "terlalu banyak". Kemudahan yang diberikan akibat kamera era kini dalam bentuk ruang penyimpanan besar, kemudahan, dengan sejenis sudah membuat para pejabat kamera menjadi "boros".

Boros dalam artian, mengatur akan menyimpan semua buatan karya karena merasa ruang penyimpanan sedang menampung.

Terkadang foto-foto yang disimpan pula faktual tidak terbabit "istimewa", biasa saja.

Hal ini berlaku biasanya karena kebiasaan seorang juru potret adalah memfoto 4-5 kali dari satu posisi, dengan justru lebih. Tujuannya untuk mendapatkan buatan yang pokta dengan mengatur akan melaksanakan pemilihan nantinya.

Sayangnya, biasanya setelah beres memfoto bangkit rasa "sayang" terhadap foto-foto . Akhirnya mengatur menyimpannya, acap kali tanpa melaksanakan proses pemilahan.

Yang menjadi bab bukan kapasitas hard disk yang akan penuh. Walau tentu suatu waktu akan penuh, tetapi kapasitas hard disk di zaman ini justru melebihi kebutuhan, justru untuk para fotografer.

Bukan bab penyimpanannya.

Yang menjadi bab adalah kebiasaan memfoto "sembarangan", dengan kemudian menyimpannya tanpa memandang lagi, justru berefek buruk pada seorang fotografer. Ia tidak lagi ada ketajaman dalam keadaan tehnis dengan pengamatan.

Nah, makna kill the babies bagi para juru potret lebih kepada sebuah pelatihan diri.

Seorang juru potret akan merasa "terikat" terhadap buatan karyanya, seberapapun jeleknya, yang mungkin sangat ia sukai. Mereka seperti berpendapat foto-foto tersebut sebagai bayi mereka.

Disinilah teori kill the babies berperan.

Dalam keadaan ini, si juru potret layak bersikap "kejam". Kejam terhadap fotonya, bakhil terhadap dirinya sendiri.

Ia layak memilah dengan memilih.

Dari ratusan foto yang diproduksi kameranya, si juru potret layak menemukan "YANG TERBAIK". Kriterianya ditentukan akibat si juru potret sendiri.

Ia layak menjatuhkan vonis pada fotonya.

Apakah sebuah foto sudah memenuhi kriteria tehnis, seperti obyek? Apakah komposisinya sudah tepat? Apakah obyeknya menarik? Apakah foto itu sudah menampilkan ide yang ingin disampaikan? Dan beda sebagainya.

Sang juru potret layak memilah, memilah, dengan memilah. Sampai akibatnya ia menemukan yang menurutnya sebagai yang TERBAIK.

Untuk itu, si juru potret layak tega "membuang" foto-foto yang dianggapnya di kaki (gunung) standar ke "tong sampah". Kalau zaman sekarang di-delete, hingga tak berbekas.

Sayang.

Memang.

Tujuan teori Kill the Babies

Ada beberapa keuntungan sampingan dari menerapkan teori "Kill the Babies" bagi si fotografer.

1) Matanya akan terus berlatih mencari kesempurnaan (versi idealisnya)

2) Ia terus berlatih memandang kecacatan dengan kekurangan dalam dirinya lewat foto-fotonya

3) Hasilnya, ia akan mencari permasalahan dengan pemecahan untuk mengatasi kekurangannya

4) Ia bisa menemukan sudut-sudut ataupun tehnik pengambilan baru untuk buatan yang lebih maksimal

5) Sang juru potret akan mendapatkan yang pokta saja

6) Menghemat ruang penyimpanan

Tujuan belakang dari menerapkan teori ini adalah sebagai tahap evaluasi.

Tidak siap kemajuan andaikata tidak siap amatan ulang terhadap apa yang kita lakukan.

Itulah makna dengan arah dari teori Kill the Babies.

Dan yang bisa aku katakan adalah "melakukannya tidak semudah mengatakannya". Berat!

 

Sekian penjelasan tentang Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik, semoga ulasan ini dapat berfaedah pembaca terima kasih

 

 

Artikel ini diposting pada tag tips membeli kamera bekas, tips membeli kamera gopro, , tanggal 11-09-2019

|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}

 

 

Kill The Babies, begitulah istilahnya.Saya membacanya di sebuah blog milik juru potret jalanan terkenal, Eric Kim Blog.

Ia seorang warganegara Amerika Serikat berdarah Korea. Masih muda, berusia di kaki (gunung) 30 tahun. Namanya sudah melanglang buana dengan ia sudah mengadakan berbagai workshop di seantero dunia.

Kalau mau memandang hasil-hasil karyanya, teori dengan blognya bisa di sini . (Dalam bahasa Inggris, tetapi seharusnya bukan sebuah bab untuk Anda). Ada e-book panduan "street photography" yang bisa didownload gratis sebagai bahan pembelajaran.

Dari berbagai tulisannya lah istilah itu aku kenal.



Makna Kill the Babies

Terdengar bakhil dengan tidak berperikemanusiaan. Mengapa lagi layak melenyapkan "bayi"?

Sebelum berlaku salah tangkap bahwa aku ini sedang berbicara tentang kekejaman, mungkin siap baiknya aku berikan sedikit background.

Dalam dunia fotografi digital dewasa ini, para juru potret ataupun fans fotografi acap kali memfoto "terlalu banyak". Kemudahan yang diberikan akibat kamera era kini dalam bentuk ruang penyimpanan besar, kemudahan, dengan sejenis sudah membuat para pejabat kamera menjadi "boros".

Boros dalam artian, mengatur akan menyimpan semua buatan karya karena merasa ruang penyimpanan sedang menampung.

Terkadang foto-foto yang disimpan pula faktual tidak terbabit "istimewa", biasa saja.

Hal ini berlaku biasanya karena kebiasaan seorang juru potret adalah memfoto 4-5 kali dari satu posisi, dengan justru lebih. Tujuannya untuk mendapatkan buatan yang pokta dengan mengatur akan melaksanakan pemilihan nantinya.

Sayangnya, biasanya setelah beres memfoto bangkit rasa "sayang" terhadap foto-foto . Akhirnya mengatur menyimpannya, acap kali tanpa melaksanakan proses pemilahan.

Yang menjadi bab bukan kapasitas hard disk yang akan penuh. Walau tentu suatu waktu akan penuh, tetapi kapasitas hard disk di zaman ini justru melebihi kebutuhan, justru untuk para fotografer.

Bukan bab penyimpanannya.

Yang menjadi bab adalah kebiasaan memfoto "sembarangan", dengan kemudian menyimpannya tanpa memandang lagi, justru berefek buruk pada seorang fotografer. Ia tidak lagi ada ketajaman dalam keadaan tehnis dengan pengamatan.

Nah, makna kill the babies bagi para juru potret lebih kepada sebuah pelatihan diri.

Seorang juru potret akan merasa "terikat" terhadap buatan karyanya, seberapapun jeleknya, yang mungkin sangat ia sukai. Mereka seperti berpendapat foto-foto tersebut sebagai bayi mereka.

Disinilah teori kill the babies berperan.

Dalam keadaan ini, si juru potret layak bersikap "kejam". Kejam terhadap fotonya, bakhil terhadap dirinya sendiri.

Ia layak memilah dengan memilih.

Dari ratusan foto yang diproduksi kameranya, si juru potret layak menemukan "YANG TERBAIK". Kriterianya ditentukan akibat si juru potret sendiri.

Ia layak menjatuhkan vonis pada fotonya.

Apakah sebuah foto sudah memenuhi kriteria tehnis, seperti obyek? Apakah komposisinya sudah tepat? Apakah obyeknya menarik? Apakah foto itu sudah menampilkan ide yang ingin disampaikan? Dan beda sebagainya.

Sang juru potret layak memilah, memilah, dengan memilah. Sampai akibatnya ia menemukan yang menurutnya sebagai yang TERBAIK.

Untuk itu, si juru potret layak tega "membuang" foto-foto yang dianggapnya di kaki (gunung) standar ke "tong sampah". Kalau zaman sekarang di-delete, hingga tak berbekas.

Sayang.

Memang.

Tujuan teori Kill the Babies

Ada beberapa keuntungan sampingan dari menerapkan teori "Kill the Babies" bagi si fotografer.

1) Matanya akan terus berlatih mencari kesempurnaan (versi idealisnya)

2) Ia terus berlatih memandang kecacatan dengan kekurangan dalam dirinya lewat foto-fotonya

3) Hasilnya, ia akan mencari permasalahan dengan pemecahan untuk mengatasi kekurangannya

4) Ia bisa menemukan sudut-sudut ataupun tehnik pengambilan baru untuk buatan yang lebih maksimal

5) Sang juru potret akan mendapatkan yang pokta saja

6) Menghemat ruang penyimpanan

Tujuan belakang dari menerapkan teori ini adalah sebagai tahap evaluasi.

Tidak siap kemajuan andaikata tidak siap amatan ulang terhadap apa yang kita lakukan.

Itulah makna dengan arah dari teori Kill the Babies.

Dan yang bisa aku katakan adalah "melakukannya tidak semudah mengatakannya". Berat!

 

Sekian penjelasan tentang Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik, semoga ulasan ini dapat berfaedah pembaca terima kasih

 

 

Artikel ini diposting pada tag tips membeli kamera bekas, tips membeli kamera gopro, , tanggal 11-09-2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melakukan Cropping Foto Dengan Menerapkan Konsep Rule of Thirds

Tidak Semua Yang Dilihat Fotografer Menyenangkan

5 Kamera Mirrorless Terbaik 2018