Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan
Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan - Hi, selamat siang berjumpa kembali dengan website seputar fotografi terbaik dikesempatan ini saya akan bahas hal mengenai Seputar fotografer keren fotografi landscape pdf lihat selengkapnya Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan Supaya mendapatkan ulasan ulasan lain nya yang tentu menarik, mari berkunjung situs
Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan - Hi, selamat siang berjumpa kembali dengan website seputar fotografi terbaik sesi kali ini saya akan bahas hal mengenai Seputar fotografi terbaik Supaya mendapatkan ulasan ulasan lain nya yang tentu terbaru, mari berkunjung situs fotografii18
Apa yang Anda lakukan dengan alat potret yang Anda beli? Apakah Anda perlakukan sebagai jimat dengan disimpan dalam te pat tertutup mudah-mudahan tidak banter rusak? Atau kah Anda pergunakan buat membuat sebentuk buatan seni? Atau kah cuma buat menyenangkan diri sendiri dengan berikhtiar membuat sebentuk buatan artistik kolam fotografer terkenal?
Jangan cacat sangka.
Saya tidak akan mengutak-atik apapun yang Anda lakukan dengannya. Apapun itu sudah bersetuju wilayah pribadi yang tidak seorang pula bisa mengganggu gugat. Tidak lagi saya.
Apa yang akan dituliskan dalam artikel ini hanyalah sebentuk pandangan pribadi, sebentuk produk perenungan setelah kaum lama membeli sebentuk alat potret prosumer, Fuji Finepix HS35EXR dua tahun lalu. Bukan sebentuk alat potret high-end tetapi harganya ajek membuat abdi senggang memperlakukannya seperti jasad pusaka.
Memang begitu adanya. Harganya yang melebihi 25% gaji yang makbul tiap bulan, senggang membuat abdi seperti habis membeli mobil Ferrari.
Untungnya keperluan akan foto-foto bagi blog yang abdi kelola dengan kualitas foto yang dihasilkan oleh smartphone Xperia-M semakin menurun, memaksa mudah-mudahan si Finepix harus sering keluar.
Mau tidak mau. Blog Lovely Bogor yang abdi kelola membutuhkan berlimpah foto dari Kota Hujan tersebut sebagai cacat satu unsur pelengkap artikel. Kalau cuma mengandalkan kaca Xperia-M yang sudah asak goresan, akhirnya kirang maksimal.
Jadilah "benda pusaka" itu harus keluar semakin sering.
Tidak begitu lama, jiran yang sering memandang abdi hunting foto pula menyadari kalau ada di antara mereka yang bisa memanfaatkan kamera. Apalagi mereka lagi sudah memandang kaum produk buatan di blog Lovely Bogor.
Seperti efek domino, sejak itu permintaan buat menjadi fotografer buat berbagai bagai kegiatan di lingkungan rumah seperti dilimpahkan kepada saya. Meskipun kaum jiran memiliki alat potret dari macam yang bertambah mahal sekalipun, mereka ajek mengandalkan abdi buat merekam momen-momen berbagai kegiatan di kompleks dimana abdi tinggal. Terutama di detik Perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus nama samaran 17-an.
Rada malas sebenarnya buat memenuhinya. Bukan atas sayang, tetapi bertambah atas tempo hunting yang sudah kurang harus dibagi pula.
Apalagi momen-momen yang harus difoto, pastilah itu itu saja. Sesuatu yang sudah abdi amat-amati ratusan kali. Semuanya datar dengan tidak menantang sama sekali.
Hanya kesadaran bahwa ada sebentuk kewajiban sebagai makhluk sosial lah yang mendorong abdi menerima "penugasan" tersebut.
Ternyata, abdi salah!
Yah. Saya harus akui tentang hal itu.
Mengabadikan kegiatan-kegiatan di lingkungan rumah alih-alih tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Tidak membosankan.
Jauh dari itu.
Saya menemukan bahkan hal tersebut memasrahkan tantangan tersendiri. Tantangan yang sama besarnya dengan menariknya dengan berburu foto anak Adam tidak dikenal di jalanan ala fotografi jalanan.
Tantanga itu adalah dengan jalan apa cara membuat sebentuk foto yang menarik dari sesuatu yang biasa saja.
Tidak ada yang eksklusif dari sebentuk pertandingan balap bal atau makan kerupuk. Setiap tahun abdi melihatnya setiap 17 Agustus. Tidak ada yang berbeda.
Begitu juga, dengan tokoh-tokoh dalam fotonya. Semua adalah anak Adam yang ditemui hampir setiap hari. Tidak ada adrenalin yang terpacu ketika memandang ivu-ibu dengan postur tubuh yang sudah jauh dari ideal.
How to make a good picture from something mundane like that? Bagaimana harus membuat foto-foto yang bisa menarik perhatian dari kesemua hal datar itu?
Itulah tantangannya.
Tidak mudah. Sama amat tidak mudah.
Tidak sulit menarik perhatian penikmat foto kalau tokoh dalam kameranya seorang ala beebadan sexy. Bahkan tanpa berbagai tehnik yang rumit, kemolekan tubuh si ala sudah akan menyedot perhatian.
Tetapi, dengan jalan apa memajukan bidang indah dari ibu-ibu yang badannya sudah melar dengan jauh dari sempurna?
Ternyata, hal itu mendatangkan keceriaan tersendiri bagi saya, si penjabat kamera.
Mau tidak mau, abdi harus berpikir tentang caranya, koreografernya, posisi memotretnya, dengan beda sebagainya. Sebisa agak-agak penampilan mereka dibuat tidak seperti galibnya mudah-mudahan tidak sama dengan jutaan foto ala 17 Agustusan.
Paling tidak, akhirnya harus kurang berparak dengan mengedepankan keceriaan dalam fotonya.
Harus la yaw. Kalau keriaan 17-an tidak gembira, kalakian tidak akan cocok dengan suasana nya.
Berbagai hal harus abdi lakukan, mulai dari berpindah posisi, hingga meminta para ala dadakan itu bergaya.
Tidak terasa.
Semua itu membuat abdi ayun-temayun dalam kesibukan dengan kesenangan dalam mengambil foto dari hal-hal yang datar tersebut.
O akur abdi gembira.
Banyak teori yang selagi ini cuma berupa tulisan atau kata-kata bisa dipraktekkan disini. Teori tentang dengan jalan apa mengamati cita-cita cahaya, background, sudut pengambilan gambar seperti ditantang buat dikeluarkan.
Latihan dalam bentuk nyata.
Nyata atas akhirnya akan dinilai oleh mereka-mereka yang ada di foto. Tetangga-tetangga tentunya berharap abdi bisa memasrahkan "lebih" dibandingkan kalau mereka yang melakukan.
Ruwet, tetapi menyenangkan. Tantangan benar harus dicari atas hal itu akan membawa saya bekerja ke level berikutnya. Tantangan membuat diri saya bertambah ayu dari sebelumnya.
Hasilnya?
Tidak sia-sia.
Meskipun jelas bukan foto-foto buat kompetisi foto dengan dengan tehnik tinggi, foto-foto yang dihasilkan membuat mereka memasrahkan senyum dengan acungan jempol.
Mereka mengatakan tidak seperti yang biasa. Berbeda.
Entah segala apa maksudnya, tetapi benar sebenarnya ada kaum trik sederhana yang abdi pungut dari internet dengan jalanan yang abdi coba terapkan. Salah satunya adalah menghadirkan emosi pada fotonya. Bukan sekedar dokumentasi.
Dengan berikhtiar menangkap emosi keceriaan ataupun membuatnya, fotonya tidak lagi cuma sekedar rekaman gambar kegiatan yang bangka dengan tidak menarik.
Foto-foto itu menjadi bertambah hidup dengan ceria.
Mungkin. Mungkin atas itu menjadi terasa berbeda.
Terserah lah.
Apapun yang ada di angan-angan mereka, abdi tidak akan suah tahu.
Yang terlihat di dada mata adalah tangis ketika memandang foto anak dengan suami mereka terjatuh detik balap karung, gagal menggigit kemplang yang tergantung, dengan berlimpah hal beda yang sebenarnya hal yang sudah sering mereka saksikan.
Mereka menikmati momen-momen yang terekam oleh si Fuji Finepix sambil mesem dengan bercanda. Bergembira bersama tidak beradu hingga mereka memandang foto terakhir.
Bahkan kaum hari setelah itu pula pembicaraan masih terus berlangsung. Foto-foto itu masih beredar via Whatsapp atau tampil di wall Facebook.
Ucapan terima afeksi pula bertubi-tubi diucapkan.
Menyenangkan.
Sangat menyenangkan.
Bukan cuma abdi bergembira telah memiliki kesempatan mendemonstrasikan kemampuan, mempraktekkan berbagai tehnik, tetapi abdi melacak satu hal lainnya.
Satu hal yang akhirnya tergambar jelas di dada mata.
Ternyata alat potret bisa dipergunakan buat berbagi kegembiraan. Memang bukan dalam sebentuk lomba berhadiah jutaan, bukan dalam kompetisi besar-besaran, tetapi ajek saja memandang anak Adam tersenyum dengan bergembira adalah sesuatu yang terasa banyak menyenangkan.
Apalagi bila abdi adalah si penjabat kamera.
Sampai disini penjelasan perihal Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan, semoga ulasan ini dapat menambah wawasan pembaca terima kasih
tulisan ini diposting pada kategori fotografi landscape pdf, fotografer landscape terbaik indonesia, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Apa yang Anda lakukan dengan alat potret yang Anda beli? Apakah Anda perlakukan sebagai jimat dengan disimpan dalam te pat tertutup mudah-mudahan tidak banter rusak? Atau kah Anda pergunakan buat membuat sebentuk buatan seni? Atau kah cuma buat menyenangkan diri sendiri dengan berikhtiar membuat sebentuk buatan artistik kolam fotografer terkenal?
Jangan cacat sangka.
Saya tidak akan mengutak-atik apapun yang Anda lakukan dengannya. Apapun itu sudah bersetuju wilayah pribadi yang tidak seorang pula bisa mengganggu gugat. Tidak lagi saya.
Apa yang akan dituliskan dalam artikel ini hanyalah sebentuk pandangan pribadi, sebentuk produk perenungan setelah kaum lama membeli sebentuk alat potret prosumer, Fuji Finepix HS35EXR dua tahun lalu. Bukan sebentuk alat potret high-end tetapi harganya ajek membuat abdi senggang memperlakukannya seperti jasad pusaka.
Memang begitu adanya. Harganya yang melebihi 25% gaji yang makbul tiap bulan, senggang membuat abdi seperti habis membeli mobil Ferrari.
Untungnya keperluan akan foto-foto bagi blog yang abdi kelola dengan kualitas foto yang dihasilkan oleh smartphone Xperia-M semakin menurun, memaksa mudah-mudahan si Finepix harus sering keluar.
Mau tidak mau. Blog Lovely Bogor yang abdi kelola membutuhkan berlimpah foto dari Kota Hujan tersebut sebagai cacat satu unsur pelengkap artikel. Kalau cuma mengandalkan kaca Xperia-M yang sudah asak goresan, akhirnya kirang maksimal.
Jadilah "benda pusaka" itu harus keluar semakin sering.
Tidak begitu lama, jiran yang sering memandang abdi hunting foto pula menyadari kalau ada di antara mereka yang bisa memanfaatkan kamera. Apalagi mereka lagi sudah memandang kaum produk buatan di blog Lovely Bogor.
Seperti efek domino, sejak itu permintaan buat menjadi fotografer buat berbagai bagai kegiatan di lingkungan rumah seperti dilimpahkan kepada saya. Meskipun kaum jiran memiliki alat potret dari macam yang bertambah mahal sekalipun, mereka ajek mengandalkan abdi buat merekam momen-momen berbagai kegiatan di kompleks dimana abdi tinggal. Terutama di detik Perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus nama samaran 17-an.
Rada malas sebenarnya buat memenuhinya. Bukan atas sayang, tetapi bertambah atas tempo hunting yang sudah kurang harus dibagi pula.
Apalagi momen-momen yang harus difoto, pastilah itu itu saja. Sesuatu yang sudah abdi amat-amati ratusan kali. Semuanya datar dengan tidak menantang sama sekali.
Hanya kesadaran bahwa ada sebentuk kewajiban sebagai makhluk sosial lah yang mendorong abdi menerima "penugasan" tersebut.
Ternyata, abdi salah!
Yah. Saya harus akui tentang hal itu.
Mengabadikan kegiatan-kegiatan di lingkungan rumah alih-alih tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Tidak membosankan.
Jauh dari itu.
Saya menemukan bahkan hal tersebut memasrahkan tantangan tersendiri. Tantangan yang sama besarnya dengan menariknya dengan berburu foto anak Adam tidak dikenal di jalanan ala fotografi jalanan.
Tantanga itu adalah dengan jalan apa cara membuat sebentuk foto yang menarik dari sesuatu yang biasa saja.
Tidak ada yang eksklusif dari sebentuk pertandingan balap bal atau makan kerupuk. Setiap tahun abdi melihatnya setiap 17 Agustus. Tidak ada yang berbeda.
Begitu juga, dengan tokoh-tokoh dalam fotonya. Semua adalah anak Adam yang ditemui hampir setiap hari. Tidak ada adrenalin yang terpacu ketika memandang ivu-ibu dengan postur tubuh yang sudah jauh dari ideal.
How to make a good picture from something mundane like that? Bagaimana harus membuat foto-foto yang bisa menarik perhatian dari kesemua hal datar itu?
Itulah tantangannya.
Tidak mudah. Sama amat tidak mudah.
Tidak sulit menarik perhatian penikmat foto kalau tokoh dalam kameranya seorang ala beebadan sexy. Bahkan tanpa berbagai tehnik yang rumit, kemolekan tubuh si ala sudah akan menyedot perhatian.
Tetapi, dengan jalan apa memajukan bidang indah dari ibu-ibu yang badannya sudah melar dengan jauh dari sempurna?
Ternyata, hal itu mendatangkan keceriaan tersendiri bagi saya, si penjabat kamera.
Mau tidak mau, abdi harus berpikir tentang caranya, koreografernya, posisi memotretnya, dengan beda sebagainya. Sebisa agak-agak penampilan mereka dibuat tidak seperti galibnya mudah-mudahan tidak sama dengan jutaan foto ala 17 Agustusan.
Paling tidak, akhirnya harus kurang berparak dengan mengedepankan keceriaan dalam fotonya.
Harus la yaw. Kalau keriaan 17-an tidak gembira, kalakian tidak akan cocok dengan suasana nya.
Berbagai hal harus abdi lakukan, mulai dari berpindah posisi, hingga meminta para ala dadakan itu bergaya.
Tidak terasa.
Semua itu membuat abdi ayun-temayun dalam kesibukan dengan kesenangan dalam mengambil foto dari hal-hal yang datar tersebut.
O akur abdi gembira.
Banyak teori yang selagi ini cuma berupa tulisan atau kata-kata bisa dipraktekkan disini. Teori tentang dengan jalan apa mengamati cita-cita cahaya, background, sudut pengambilan gambar seperti ditantang buat dikeluarkan.
Latihan dalam bentuk nyata.
Nyata atas akhirnya akan dinilai oleh mereka-mereka yang ada di foto. Tetangga-tetangga tentunya berharap abdi bisa memasrahkan "lebih" dibandingkan kalau mereka yang melakukan.
Ruwet, tetapi menyenangkan. Tantangan benar harus dicari atas hal itu akan membawa saya bekerja ke level berikutnya. Tantangan membuat diri saya bertambah ayu dari sebelumnya.
Hasilnya?
Tidak sia-sia.
Meskipun jelas bukan foto-foto buat kompetisi foto dengan dengan tehnik tinggi, foto-foto yang dihasilkan membuat mereka memasrahkan senyum dengan acungan jempol.
Mereka mengatakan tidak seperti yang biasa. Berbeda.
Entah segala apa maksudnya, tetapi benar sebenarnya ada kaum trik sederhana yang abdi pungut dari internet dengan jalanan yang abdi coba terapkan. Salah satunya adalah menghadirkan emosi pada fotonya. Bukan sekedar dokumentasi.
Dengan berikhtiar menangkap emosi keceriaan ataupun membuatnya, fotonya tidak lagi cuma sekedar rekaman gambar kegiatan yang bangka dengan tidak menarik.
Foto-foto itu menjadi bertambah hidup dengan ceria.
Mungkin. Mungkin atas itu menjadi terasa berbeda.
Terserah lah.
Apapun yang ada di angan-angan mereka, abdi tidak akan suah tahu.
Yang terlihat di dada mata adalah tangis ketika memandang foto anak dengan suami mereka terjatuh detik balap karung, gagal menggigit kemplang yang tergantung, dengan berlimpah hal beda yang sebenarnya hal yang sudah sering mereka saksikan.
Mereka menikmati momen-momen yang terekam oleh si Fuji Finepix sambil mesem dengan bercanda. Bergembira bersama tidak beradu hingga mereka memandang foto terakhir.
Bahkan kaum hari setelah itu pula pembicaraan masih terus berlangsung. Foto-foto itu masih beredar via Whatsapp atau tampil di wall Facebook.
Ucapan terima afeksi pula bertubi-tubi diucapkan.
Menyenangkan.
Sangat menyenangkan.
Bukan cuma abdi bergembira telah memiliki kesempatan mendemonstrasikan kemampuan, mempraktekkan berbagai tehnik, tetapi abdi melacak satu hal lainnya.
Satu hal yang akhirnya tergambar jelas di dada mata.
Ternyata alat potret bisa dipergunakan buat berbagi kegembiraan. Memang bukan dalam sebentuk lomba berhadiah jutaan, bukan dalam kompetisi besar-besaran, tetapi ajek saja memandang anak Adam tersenyum dengan bergembira adalah sesuatu yang terasa banyak menyenangkan.
Apalagi bila abdi adalah si penjabat kamera.
Sampai disini penjelasan perihal Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan, semoga ulasan ini dapat menambah wawasan pembaca terima kasih
tulisan ini diposting pada kategori fotografi landscape pdf, fotografer landscape terbaik indonesia, , tanggal 11-09-2019








Komentar
Posting Komentar