Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain
Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain - Hi, selamat malam bertemu kembali bersama situs info fotografi keren pada artikel ini kami akan menjelaskan hal tentang fotografi kreatif baca selengkapnya Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain Untuk mendapatkan pembahasan pembahasan lain nya yang pasti terbaik, mari berkunjung web
Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain - Hi, selamat malam bertemu kembali bersama situs info fotografi keren artikel ini kami akan menjelaskan hal tentang fotografi kreatif Untuk mendapatkan pembahasan pembahasan lain nya yang pasti terbaik, mari berkunjung web https://fotografii18.blogspot.com
Bagus dan jelek ialah dua kejadian yang berantai dengan selera. Begitu lagi indah dan buruk. Semuanya akan tergantung ala cagak nilai yang dimiliki seseorang.
Masalahnya, setiap anak Adam berbeda dan ala ujungnya penilaian membayangkan terkait kedua kata itu, agus dan jelek, lagi akan berkelaluan berbeda satu anak Adam dengan yang lain.
Pengalaman beberapa tempo lalu mendemonstrasikan banget kebenaran pandangan tentang kejadian tersebut. Sesuatu yang agus menurut kita, belum tentu agus menurut anak Adam lain. Begitu lagi sebaliknya.
Di Kebun Raya Bogor, bersama dengan teman lama, siap satu bagian yang memang agak distingtif sebagai area buat berfoto. Bentuknya sebuah gerbang bambu sepanjang 10 meteran.
Masalahnya, sepengetahuan saya, yang sudah cukup durasi bermain dengan kamera dan gambar cukup banyak, justru area tersebut secara teknis tidak bagus. Sinar matahari yang masuk melalui celah bambunya tidak meluas dan bayangan gelap rentan menutupi obyeknya.
Tetapi, dia merasa sangat ingin dibuatkan foto disana.
Jadilah, buat menyenangkan hatinya, abdi buat beberapa shoot.
Hasilnya bisa diduga. Bayangan gelap menutupi wajahnya, sehingga sulit dikenali. Begitu lagi dengan warnanya. Semua jadi serba gelap.
Kemudian abdi tunjukkan foto tersebut kepadanya. Sambil menjelaskan bahwa fotonya tidak agus karena kurang jelas.
Herannya! Justru dia berkata, "Ah agus kok!" Dan, dia meminta buat hasil foto dikirimkan kepadanya karena dia akan menyimpannya dan memasangnya di akun media sosial miliknya.
Bingung? Sempat lah. Bagaimana hasil yang bagaikan ini disebut bagus? Sampai akhirnya abdi menyadari bahwa ingatan abdi tentang "bagus" dan "jelek" berbeda.
Tentu saja, sebagai anak Adam yang sudah terbiasa bercampur dengan kamera, abdi menganggapnya jelek karena masalah obyek yang tidak jelas dan banyak kejadian lainnya. Tetapi, sang kawan durasi tidak memiliki ingatan yang sama dengan abdi tentang cagak dalam fotografi. Ia tidak kenal apa yang namanya Rule of Thirds, Kompoisi Warna.
Yang dia kenal ialah hasil foto bagaikan itu eco dilihat dan dia belum bisa menghasilkan foto yang sama.
Jadi, standarnya berbeda.
Mungkin satu waktu, saat dia sudah belajar lebih lama, agak-agak dia akan menemukan mengapa foto tersebut dikategorikan jelek. Mungkin yah.
Tetapi, yang terpenting saat itu, bagi abdi ialah setidaknya foto tersebut sudah membuat bahagia anak Adam lain.
Prinsipnya kan, selagi yang difoto (pelanggan) senang, ya abdi iring senang. Meski jantung tidak puas dan agak geli. Tetapi, itulah kenyataannya bahwa abdi harus meluluskan bahwa entitas yang jelek menurut saya, bisa jadi dianggap agus bagi anak Adam lain, alias sebaliknya.
Semua ialah masalah selera.
Sampai disini ulasan mengenai Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain, semoga pembahasan ini dapat bermanfaat pembaca salam
tulisan ini diposting pada tag , artikel fotografi makro, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Bagus dan jelek ialah dua kejadian yang berantai dengan selera. Begitu lagi indah dan buruk. Semuanya akan tergantung ala cagak nilai yang dimiliki seseorang.
Masalahnya, setiap anak Adam berbeda dan ala ujungnya penilaian membayangkan terkait kedua kata itu, agus dan jelek, lagi akan berkelaluan berbeda satu anak Adam dengan yang lain.
Pengalaman beberapa tempo lalu mendemonstrasikan banget kebenaran pandangan tentang kejadian tersebut. Sesuatu yang agus menurut kita, belum tentu agus menurut anak Adam lain. Begitu lagi sebaliknya.
Di Kebun Raya Bogor, bersama dengan teman lama, siap satu bagian yang memang agak distingtif sebagai area buat berfoto. Bentuknya sebuah gerbang bambu sepanjang 10 meteran.
Masalahnya, sepengetahuan saya, yang sudah cukup durasi bermain dengan kamera dan gambar cukup banyak, justru area tersebut secara teknis tidak bagus. Sinar matahari yang masuk melalui celah bambunya tidak meluas dan bayangan gelap rentan menutupi obyeknya.
Tetapi, dia merasa sangat ingin dibuatkan foto disana.
Jadilah, buat menyenangkan hatinya, abdi buat beberapa shoot.
Hasilnya bisa diduga. Bayangan gelap menutupi wajahnya, sehingga sulit dikenali. Begitu lagi dengan warnanya. Semua jadi serba gelap.
Kemudian abdi tunjukkan foto tersebut kepadanya. Sambil menjelaskan bahwa fotonya tidak agus karena kurang jelas.
Herannya! Justru dia berkata, "Ah agus kok!" Dan, dia meminta buat hasil foto dikirimkan kepadanya karena dia akan menyimpannya dan memasangnya di akun media sosial miliknya.
Bingung? Sempat lah. Bagaimana hasil yang bagaikan ini disebut bagus? Sampai akhirnya abdi menyadari bahwa ingatan abdi tentang "bagus" dan "jelek" berbeda.
Tentu saja, sebagai anak Adam yang sudah terbiasa bercampur dengan kamera, abdi menganggapnya jelek karena masalah obyek yang tidak jelas dan banyak kejadian lainnya. Tetapi, sang kawan durasi tidak memiliki ingatan yang sama dengan abdi tentang cagak dalam fotografi. Ia tidak kenal apa yang namanya Rule of Thirds, Kompoisi Warna.
Yang dia kenal ialah hasil foto bagaikan itu eco dilihat dan dia belum bisa menghasilkan foto yang sama.
Jadi, standarnya berbeda.
Mungkin satu waktu, saat dia sudah belajar lebih lama, agak-agak dia akan menemukan mengapa foto tersebut dikategorikan jelek. Mungkin yah.
Tetapi, yang terpenting saat itu, bagi abdi ialah setidaknya foto tersebut sudah membuat bahagia anak Adam lain.
Prinsipnya kan, selagi yang difoto (pelanggan) senang, ya abdi iring senang. Meski jantung tidak puas dan agak geli. Tetapi, itulah kenyataannya bahwa abdi harus meluluskan bahwa entitas yang jelek menurut saya, bisa jadi dianggap agus bagi anak Adam lain, alias sebaliknya.
Semua ialah masalah selera.
Sampai disini ulasan mengenai Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain, semoga pembahasan ini dapat bermanfaat pembaca salam
tulisan ini diposting pada tag , artikel fotografi makro, , tanggal 11-09-2019


Komentar
Posting Komentar