Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?
Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ? - hey, selamat siang berjumpa kembali dengan web seputar fotografi kreatif dikesempatan ini kita akan membahas hal mengenai fotografi kreatif tips membeli kamera canon untuk pemula simak selengkapnya Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ? Agar memperoleh berita berita lain nya yg tentu menarik, silahkan mampir situs
Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ? - hey, selamat siang berjumpa kembali dengan web seputar fotografi kreatif artikel ini kita akan membahas hal mengenai Seputar fotografi terbaik Agar memperoleh berita berita lain nya yg tentu menarik, silahkan mampir situs fotografii18.blogspot.com
Bukankah pertanyaan itu siap di benak Anda? Seperti segala apa sih yang dimaksud dengan komposisi cetakan yang BAIK (dan BENAR) itu? Percayalah, pertanyaan itu lagi sempat dengan masih ada kalanya hadir di kepala saya, apalagi sehabis kaum tahun menekuni dunia fotografi (dan blogging).
Tentunya, sama lagi dengan berlimpah penekun fotografi, saya (dan tentunya Anda juga) embuh agar foto-foto yang kita hasilkan mendapatkan pujian dari yang melihat. Betul kan?
Juga, masalah komposisi cetakan ini ada kalanya ditekankan bagi karet fotografer profesional atau yang sudah berpengalaman buat mendapatkan perhatian khusus. Banyak sekali catatan bersifat "how-to" (panduan) dibuat buat memberi arahan atas bagaimana komposisi cetakan itu seharusnya.
Berbeda-beda caranya, meski tetap siap belahan besar yang sama.
Dan, ujungnya kerap kejadian itu bukannya membuat kita tambah mengerti, tetapi justru semakin pusing atas bagaimana cara menghasilkan komposisi cetakan yang "baik" dengan "benar".
Betul kan?
Apa Itu Komposisi Foto ?
Ada berlimpah penjelasan yang sudah dibuat atas definisi dari "komposisi foto". Banyak sekali dengan seperti sudah disebutkan di atas, jumlahnya tidak sedikit.
Tetapi, sebenarnya bisa disingkat dalam sebentuk contoh kecil saja.
Seorang empu masak kudu mampu membelah beraneka macam benih mentah, seperti telur, bawang, tomat, dengan berlimpah juga lainnya agar jadi makanan yang lezat dengan mengundang selera. Untuk itu beliau kudu tahu bagaimana memadukan dengan berkelakuan sarwa benih itu jadi ahad jenis masakan.
Apakah kudu digoreng, dipanggang, atau direbus, beliau kudu bisa menjadikan bahan-bahan anom tadi sebentuk makanan yang membuat sarwa orang senang, dengan kemudian memujinya. Bagaimana afiliasi benih anom tadi diolah dengan dimasak disebut resep.
Semakin berlimpah yang dipuji, semakin eminen namanya, dengan ala akhirnya beliau jadi empu masak terkenal.
Nah, posisi yang sama siap ala diri seorang fotografer, tentunya bukan dalam kejadian masak memasak, tetapi dalam kejadian memotret. Seorang fotografer adalah "juru masak" yang "bertugas" membuat foto.
Sama dengan seorang empu masak, seorang fotografer akan memiliki benih mentah, seperti obyek(model), konteks belakang, bermacam-macam yang tersedia, dengan berlimpah kejadian juga lainnya. Ia kudu bisa memadukan kesemua itu jadi ahad dalam sebentuk foto.
Bila dalam dunia memasak disebut "resep", dalam dunia fotografi disebut "komposisi foto".
Jadi, istilah komposisi cetakan ala dasarnya adalah kiat atau perpaduan dari beraneka macam barang yang siap sehingga menghasilkan sebentuk foto.
Elemen Dalam Komposisi Foto
Sama seperti kiat dimana siap bahan-bahan mentah, dalam komposisi cetakan pun siap yang seperti itu. Cuma istilahnya saja berbeda.
Beberapa kejadian ini bisa dikatakan merupakan anggota sebentuk foto, seperti :
- Warna
- Obyek foto
- Latar belakang
- Bentuk
- Garis-garis
Elemen-elemn inilah yang kudu dipadukan jadi "satu kesatuan" yang secara total disebut dengan komposisi foto.
Adakah Komposisi Foto Yang Baik Dan Benar?
Tahukan kalau ibu-ibu ada kalanya membeli buku atas kiat masakan? Tujuannya mengatur tahu cara membuat jenis makanan tertentu, yang katanya "enak". Kalau di zaman kini mungkin, cukup dengan mengakses situs-situs internet dengan mempelajari resep-resep yang dibagikan bagi orang lain.
Setelah berikhtiar sendiri, hasilnya ada kalanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Entah keasinan, gosong, bantat. Pokoknya berbeda.
Biasanya kejadian itu berjalan karena sang ibu mengabaikan kenyataan bahwa kiat itu hanyalah bersifat arahan dengan dibuat dalam kondisi yang tentunya berbeda. Ketika kiat dibuat berdasarkan pemakaian microvave atau dapur listrik, kemudian diterapkan ala dapur kompor biasa, tentunya kue yang dihasilkan akan berlainan pula.
Belum juga takarannya yang terkadang tidak tepat.
Bahkan, kiat kue bolu ketan hitam Pondan dengan takaran yang sudah aman saja, di tangan orang yang berbeda, rasanya bisa berlainan pula.
Sama dengan komposisi foto.
Memang sudah berlimpah sekali "resep" komposisi cetakan biar bagus dengan enak dilihat, tetapi, tidak jarak dengan kiat masakan, tetaplah hanya bersifat panduan. Bukan merupakan keputusan bahwa sebentuk cetakan akan jadi memukau.
Rule of Thirds (Aturan Sepertiga), Leading Lines, Aturan Segitiga, dengan berlimpah juga lainnya hanyalah arahan saja. Bukan merupakan keputusan dengan kebenaran. Tidak akan sempat instingtif terus menjadikan hasilnya sebentuk cetakan yang WAH.
Apalagi kalau semisal dibuat menggunakan kamera Full Frame, kemudian dipraktekkan memanfaatkan kamera kantong atau smartphone.
Sudah aman akan berlainan hasilnya.
Tidak akan sama.
Bisa dikata tidak akan siap sebentuk komposisi cetakan yang kaki dengan aman benar. Setiap fotografer kudu berusaha mendapatkan sendiri komposisi jempolan yang bisa dilakukannya dengan benih yang tersedia.
Ia kudu bisa membelah segala apa yang tersedia di hadapannya jadi ahad kesatuan yang bagus dengan enak dilihat. Bahkan, kalau harus dengan menabrak arahan yang sudah ada. Ia kudu bisa mendapatkan afiliasi jempolan dari sarwa anggota yang siap dengan caranya dengan sesuai dengan tujuannya.
Seorang fotografer pemandangan tentunya punya tujuan yang berlainan dengan fotografer model. Bahannya berlainan dengan caranya berbeda. Tidak jarak dengan saat empu masak berkelakuan sayur asam dengan salad. Tidak akan sama.
Mengetahui filosofi cara memang bagus. Bagaimanapun akan sangat membantu, tetapi ala akhirnya diskusi mengenai komposisi cetakan adalah sebatas teori. Bisa dianggap sebagai arahan saja dengan bukan asas yang kudu diikuti.
Seperti lagi seorang empu masak yang kudu berkreasi dengan cabe, bawang, tomat, dengan benih lainnya, seorang fotografer kudu melakukan kejadian yang sama dengan garis, warna, obyek, dengan konteks belakang.
Mereka kudu bisa mendapatkan racikan sendiri agar fotonya bisa enak dilihat dengan kemudian mendapatkan pujian (atau uang). Masing-masing akan memiliki kaki yang berbeda. Tidak jarak celah kaki koki bertaraf internasional dengan ibu rumah tangga dalam kejadian masakan.
Tentu saja siap yang namanya sekolah memasak, seperti lagi siap kursus fotografi. Tetapi, kejadian itu kudu dipandang sebagai usaha mendapatkan pengetahuan kaki saja. Bukan sebentuk kepastian.
Yah, amat tidak itulah pandangan dari seorang penggemar fotografi jalanan saja. Bukan bukti dengan kepastian. Masih akan siap berlimpah pandangan lain di dunia ini.
Sampai di sini ulasan perihal Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?, semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan pembaca terima kasih
Artikel ini diposting pada label tips membeli kamera canon untuk pemula, cara membuat light painting dengan fv5, cara membuat foto light painting dengan kamera hp, , tanggal 11-09-2019
|https://fotografii18.blogspot.com|fotografii18}
Bukankah pertanyaan itu siap di benak Anda? Seperti segala apa sih yang dimaksud dengan komposisi cetakan yang BAIK (dan BENAR) itu? Percayalah, pertanyaan itu lagi sempat dengan masih ada kalanya hadir di kepala saya, apalagi sehabis kaum tahun menekuni dunia fotografi (dan blogging).
Tentunya, sama lagi dengan berlimpah penekun fotografi, saya (dan tentunya Anda juga) embuh agar foto-foto yang kita hasilkan mendapatkan pujian dari yang melihat. Betul kan?
Juga, masalah komposisi cetakan ini ada kalanya ditekankan bagi karet fotografer profesional atau yang sudah berpengalaman buat mendapatkan perhatian khusus. Banyak sekali catatan bersifat "how-to" (panduan) dibuat buat memberi arahan atas bagaimana komposisi cetakan itu seharusnya.
Berbeda-beda caranya, meski tetap siap belahan besar yang sama.
Dan, ujungnya kerap kejadian itu bukannya membuat kita tambah mengerti, tetapi justru semakin pusing atas bagaimana cara menghasilkan komposisi cetakan yang "baik" dengan "benar".
Betul kan?
Apa Itu Komposisi Foto ?
Ada berlimpah penjelasan yang sudah dibuat atas definisi dari "komposisi foto". Banyak sekali dengan seperti sudah disebutkan di atas, jumlahnya tidak sedikit.
Tetapi, sebenarnya bisa disingkat dalam sebentuk contoh kecil saja.
Seorang empu masak kudu mampu membelah beraneka macam benih mentah, seperti telur, bawang, tomat, dengan berlimpah juga lainnya agar jadi makanan yang lezat dengan mengundang selera. Untuk itu beliau kudu tahu bagaimana memadukan dengan berkelakuan sarwa benih itu jadi ahad jenis masakan.
Apakah kudu digoreng, dipanggang, atau direbus, beliau kudu bisa menjadikan bahan-bahan anom tadi sebentuk makanan yang membuat sarwa orang senang, dengan kemudian memujinya. Bagaimana afiliasi benih anom tadi diolah dengan dimasak disebut resep.
Semakin berlimpah yang dipuji, semakin eminen namanya, dengan ala akhirnya beliau jadi empu masak terkenal.
Nah, posisi yang sama siap ala diri seorang fotografer, tentunya bukan dalam kejadian masak memasak, tetapi dalam kejadian memotret. Seorang fotografer adalah "juru masak" yang "bertugas" membuat foto.
Sama dengan seorang empu masak, seorang fotografer akan memiliki benih mentah, seperti obyek(model), konteks belakang, bermacam-macam yang tersedia, dengan berlimpah kejadian juga lainnya. Ia kudu bisa memadukan kesemua itu jadi ahad dalam sebentuk foto.
Bila dalam dunia memasak disebut "resep", dalam dunia fotografi disebut "komposisi foto".
Jadi, istilah komposisi cetakan ala dasarnya adalah kiat atau perpaduan dari beraneka macam barang yang siap sehingga menghasilkan sebentuk foto.
Elemen Dalam Komposisi Foto
Sama seperti kiat dimana siap bahan-bahan mentah, dalam komposisi cetakan pun siap yang seperti itu. Cuma istilahnya saja berbeda.
Beberapa kejadian ini bisa dikatakan merupakan anggota sebentuk foto, seperti :
- Warna
- Obyek foto
- Latar belakang
- Bentuk
- Garis-garis
Elemen-elemn inilah yang kudu dipadukan jadi "satu kesatuan" yang secara total disebut dengan komposisi foto.
Adakah Komposisi Foto Yang Baik Dan Benar?
Tahukan kalau ibu-ibu ada kalanya membeli buku atas kiat masakan? Tujuannya mengatur tahu cara membuat jenis makanan tertentu, yang katanya "enak". Kalau di zaman kini mungkin, cukup dengan mengakses situs-situs internet dengan mempelajari resep-resep yang dibagikan bagi orang lain.
Setelah berikhtiar sendiri, hasilnya ada kalanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Entah keasinan, gosong, bantat. Pokoknya berbeda.
Biasanya kejadian itu berjalan karena sang ibu mengabaikan kenyataan bahwa kiat itu hanyalah bersifat arahan dengan dibuat dalam kondisi yang tentunya berbeda. Ketika kiat dibuat berdasarkan pemakaian microvave atau dapur listrik, kemudian diterapkan ala dapur kompor biasa, tentunya kue yang dihasilkan akan berlainan pula.
Belum juga takarannya yang terkadang tidak tepat.
Bahkan, kiat kue bolu ketan hitam Pondan dengan takaran yang sudah aman saja, di tangan orang yang berbeda, rasanya bisa berlainan pula.
Sama dengan komposisi foto.
Memang sudah berlimpah sekali "resep" komposisi cetakan biar bagus dengan enak dilihat, tetapi, tidak jarak dengan kiat masakan, tetaplah hanya bersifat panduan. Bukan merupakan keputusan bahwa sebentuk cetakan akan jadi memukau.
Rule of Thirds (Aturan Sepertiga), Leading Lines, Aturan Segitiga, dengan berlimpah juga lainnya hanyalah arahan saja. Bukan merupakan keputusan dengan kebenaran. Tidak akan sempat instingtif terus menjadikan hasilnya sebentuk cetakan yang WAH.
Apalagi kalau semisal dibuat menggunakan kamera Full Frame, kemudian dipraktekkan memanfaatkan kamera kantong atau smartphone.
Sudah aman akan berlainan hasilnya.
Tidak akan sama.
Bisa dikata tidak akan siap sebentuk komposisi cetakan yang kaki dengan aman benar. Setiap fotografer kudu berusaha mendapatkan sendiri komposisi jempolan yang bisa dilakukannya dengan benih yang tersedia.
Ia kudu bisa membelah segala apa yang tersedia di hadapannya jadi ahad kesatuan yang bagus dengan enak dilihat. Bahkan, kalau harus dengan menabrak arahan yang sudah ada. Ia kudu bisa mendapatkan afiliasi jempolan dari sarwa anggota yang siap dengan caranya dengan sesuai dengan tujuannya.
Seorang fotografer pemandangan tentunya punya tujuan yang berlainan dengan fotografer model. Bahannya berlainan dengan caranya berbeda. Tidak jarak dengan saat empu masak berkelakuan sayur asam dengan salad. Tidak akan sama.
Mengetahui filosofi cara memang bagus. Bagaimanapun akan sangat membantu, tetapi ala akhirnya diskusi mengenai komposisi cetakan adalah sebatas teori. Bisa dianggap sebagai arahan saja dengan bukan asas yang kudu diikuti.
Seperti lagi seorang empu masak yang kudu berkreasi dengan cabe, bawang, tomat, dengan benih lainnya, seorang fotografer kudu melakukan kejadian yang sama dengan garis, warna, obyek, dengan konteks belakang.
Mereka kudu bisa mendapatkan racikan sendiri agar fotonya bisa enak dilihat dengan kemudian mendapatkan pujian (atau uang). Masing-masing akan memiliki kaki yang berbeda. Tidak jarak celah kaki koki bertaraf internasional dengan ibu rumah tangga dalam kejadian masakan.
Tentu saja siap yang namanya sekolah memasak, seperti lagi siap kursus fotografi. Tetapi, kejadian itu kudu dipandang sebagai usaha mendapatkan pengetahuan kaki saja. Bukan sebentuk kepastian.
Yah, amat tidak itulah pandangan dari seorang penggemar fotografi jalanan saja. Bukan bukti dengan kepastian. Masih akan siap berlimpah pandangan lain di dunia ini.
Sampai di sini ulasan perihal Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?, semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan pembaca terima kasih
Artikel ini diposting pada label tips membeli kamera canon untuk pemula, cara membuat light painting dengan fv5, cara membuat foto light painting dengan kamera hp, , tanggal 11-09-2019
Komentar
Posting Komentar